Presiden Chile, Jose Antonio Kast, mengumumkan keadaan darurat sebagai respons terhadap bencana badai. Kebijakan ini diterapkan di Provinsi Coquimbo dan Huasco selama 30 hari untuk menangani dampak bencana alam tersebut.
Badai dan hujan deras yang terjadi diduga akibat fenomena El Nino telah menghantam bagian tengah Chile. Akibatnya, sejumlah rumah rusak dan jalan terpaksa ditutup karena banjir bandang.
Kast menyatakan bahwa penetapan keadaan darurat ini penting untuk proses penyelamatan warga. Ia juga memperingatkan bahwa kemungkinan jumlah korban masih dapat bertambah. “Situasi di Coquimbo dan Huasco masih mengkhawatirkan. Dengan ini, kami akan memperbolehkan penerjunan personel militer ke area terdampak untuk menangani bencana dan mengirimkan sumber daya dan bantuan,” tuturnya, dikutip dari Mercopress, Sabtu (25/7/2026).
Hingga saat ini, jumlah korban tewas akibat bencana badai di Chile mencapai 13 orang, dengan 4 orang masih dilaporkan hilang. Sekitar 65 ribu penduduk juga terdampak oleh bencana ini.
Badan Penanganan dan Penanggulangan Bencana Chile (Senapred) melaporkan lebih dari 1.100 rumah hancur dan rusak parah. Sekitar 2.200 orang terdampak, dengan lebih dari 33 ribu orang masih terisolasi di Atacama. Kementerian Energi Chile menyebutkan bahwa sekitar 150 ribu orang belum mendapatkan akses listrik akibat badai ini, sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar di sekolah terpaksa diliburkan sementara.
Wakil Menteri Dalam Negeri Chile, Maximo Pavez, menyatakan bahwa iklim di Chile tidak menentu dalam beberapa hari terakhir, dengan hujan deras, banjir, angin kencang, dan badai salju terjadi di 10 dari 16 wilayah negara tersebut. “Apa yang umumnya turun dalam sebulan kini turun dalam 1 jam saja dan membuatnya seperti yang terjadi di Coquimbo saat ini,” tuturnya, dikutip dari UPI.
Di ibu kota Santiago, hujan setebal 4,01 inchi tercatat dalam 3 hari, jumlah ini lebih dari rerata hujan selama lebih dari 1 bulan pada bulan Juli dan menjadi yang tertinggi sejak 2002.