Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan bahwa 28.478 siswa baru Sekolah Rakyat untuk tahun ajaran 2026/2027 akan menerima pembekalan mengenai literasi digital dan etika bermedia sosial selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program ini dirancang untuk membangun kebiasaan memanfaatkan teknologi secara produktif sejak usia dini.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa materi literasi digital merupakan elemen penting dalam MPLS, di mana siswa akan diperkenalkan pada penggunaan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran melalui learning management system (LMS). "Anak-anak mulai SD pun sudah dibiasakan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk proses pembelajaran bukan untuk hal-hal yang tidak semestinya," ungkap Saifullah Yusuf di Jakarta.
Saifullah menegaskan bahwa penggunaan gawai di lingkungan Sekolah Rakyat akan dibatasi secara ketat. Siswa tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam selama kegiatan belajar-mengajar. Sebagai alternatif, proses pembelajaran akan memanfaatkan perangkat laptop atau komputer yang digunakan di bawah pengawasan guru.
Menurutnya, pembatasan ini sejalan dengan upaya membangun budaya digital yang sehat, sehingga siswa dapat menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan pendidikan. "Mereka mulai dibimbing bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik, bagaimana memilih dan memilah informasi dengan baik, sehingga terbangun kesadaran sejak dini, bukan justru sebaliknya untuk hal-hal yang tidak produktif," tambahnya.
Rincian Siswa Sekolah Rakyat
Kemensos mencatat bahwa 28.478 anak dari keluarga prasejahtera telah bergabung dalam Sekolah Rakyat pada tahun ajaran 2026/2027. Rincian siswa terdiri dari lebih dari 6.000 siswa di jenjang SD dalam 210 rombongan belajar, 11.186 siswa di jenjang SMP dalam 373 rombongan belajar, dan 11.077 siswa di jenjang SMA dalam 369 rombongan belajar. MPLS nasional Sekolah Rakyat dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan dan dilaksanakan dalam empat gelombang, dimulai pada 14 Juli 2026.
Pendampingan oleh Taruna TNI dan Polri
Selain pembekalan literasi digital, Kemensos juga menjadwalkan pendampingan khusus selama lima hari oleh taruna TNI dan Polri. Pendampingan ini bertujuan untuk membentuk karakter serta menanamkan kedisiplinan kepada siswa yang mengikuti pendidikan berbasis asrama. Saifullah menjelaskan bahwa seluruh aktivitas siswa telah disusun dalam jadwal harian, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat.
"Mulai bangun tidur sampai tidur lagi itu ada jadwal yang telah diatur sedemikian rupa. Kita harapkan nanti anak-anak ini bisa belajar bagaimana menata barang-barang pribadi, perlengkapan sekolah, dan juga mengikuti jadwal-jadwal yang ada, dan bisa mengikuti proses pembelajaran secara tertib dan rapi dari bangun tidur sampai tidur kembali," kata dia. Melalui pola pembelajaran ini, Kemensos berharap para siswa tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga memiliki karakter disiplin, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, serta terbiasa menjalani kehidupan belajar yang teratur.