Proses pembelajaran anak di sekolah sangat bertumpu pada keandalan indra penglihatannya, mulai dari membaca buku pelajaran hingga mencermati tulisan guru di papan tulis. Namun, kendala kesehatan mata pada anak sekolah dasar sering kali luput dari perhatian orang tua maupun pengajar di sekolah.
Masalah ini menjadi sorotan utama dalam Media Briefing pemaparan hasil Penelitian Determinan Perkembangan Kapasitas Kognitif dan Imajinasi (Future Imagination and Cognitive Capacity) yang diselenggarakan oleh Indonesia Health Development Center (IHDC) di Hotel Dafam Enkadeli Thamrin, Jakarta, pada Senin (19/10/2026).
Mengapa Penglihatan Buram pada Anak Kerap Luput Terdeteksi?
Dalam acara tersebut, dokter spesialis mata dr. Kianti Raisa Darusman, Sp.M(K), MMedSci, menjelaskan bahwa anak-anak umumnya tidak menyadari jika pandangan mereka sebetulnya tidak jernih. Karena belum memiliki pembanding, mereka menganggap kondisi penglihatannya normal-normal saja.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Kianti, “Anak-anak ini sering kali memang tidak tahu penglihatan yang jelas itu harusnya seperti apa dan tidak mengeluhkan bahwa penglihatan mereka buram,”.
Hasil Riset IHDC: Kaitan Penglihatan dan Fungsi Kognitif Anak
Studi yang dilakukan oleh IHDC melibatkan sebanyak 1.007 murid berusia 9–14 tahun dari empat sekolah dasar negeri di wilayah Jakarta. Riset ini secara khusus meneliti hubungan antara kualitas penglihatan dengan kemampuan kognitif anak dalam keseharian mereka.
Dari pemaparan data riset, Kianti mengungkapkan fakta bahwa sekitar 30 persen dari total anak yang diteliti sebenarnya memerlukan kacamata, namun belum pernah sekalipun menjalani tes kesehatan mata.
“Jadi sebetulnya kenapa bisa terjadi seperti ini? Mayoritas anak-anak ini belum pernah mengalami skrining mata,” tutur Kianti.
Ia menerangkan lebih lanjut bahwa gangguan refraksi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berdampak buruk pada fungsi berpikir harian anak, khususnya bagi mereka yang mengalami gangguan tingkat sedang hingga berat.
Pemeriksaan di Sekolah dan Penerapan Task Shifting
Mengingat anak-anak jarang mengeluhkan kondisi matanya, pemeriksaan penglihatan tidak sepatutnya menunggu timbulnya keluhan. Menurut Kianti, langkah penapisan (skrining) dapat diintegrasikan secara langsung di sekolah tanpa perlu selalu mendatangi fasilitas kesehatan.
“Sebetulnya simpel sekali karena kami melakukan skrining itu sebetulnya bisa dilakukan di sekolah, jadi tidak perlu setiap kali anak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan skrining,” jelas Kianti.
Pada penelitian tersebut, tim riset mengaplikasikan CERMATA, sebuah alat tes penglihatan berbasis situs web. Dokter spesialis mata dr. Tri Rahayu, Sp.M(K), FIACLE, menerangkan bahwa skema skrining sekolah ini dirumuskan bersama oleh para ahli, Perdami, Kementerian Pendidikan, dan pihak sekolah agar metodenya efisien serta dapat dipraktikkan secara berkala.
Tri mengungkapkan, “Ada konsensus model skrining gangguan penglihatan di sekolah. Aspeknya adalah bagaimana skrining itu bisa dikerjakan dengan mudah, bagaimana bisa dilakukan secara berkala dengan cara yang sangat sederhana, dan adanya task shifting, tugasnya dialihkan tidak lagi perlu para pakar,”.
Pendekatan alih peran (task shifting) ini terbukti efektif di lapangan. Tri menambahkan, “Caranya sangat mudah, bisa dengan dilatih guru, bahkan kalau untuk SMP itu, murid SMP nya sendiri yang mengerjakan. Itu juga sudah kami lakukan penelitian dan dipublikasikan. Hasilnya setara dengan tenaga medis,”.
Menjamin Akses Kacamata dan Efisiensi Biaya
Meskipun demikian, proses penapisan awal barulah langkah pembuka. Kianti menegaskan bahwa hal terpenting setelah anak teridentifikasi memiliki masalah penglihatan adalah memastikan mereka mendapatkan penanganan medis yang sesuai.
“Bukan hanya skriningnya, tapi skrining kemudian terdeteksi, kemudian juga yang paling penting adalah bagaimana anak ini mendapatkan akses untuk mendapatkan koreksi atau manajemen untuk kacamata,” tegas Kianti.
Pandangan senada disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina IHDC Prof. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K). Ia menilai program skrining langsung di sekolah jauh lebih praktis sekaligus ekonomis.
Nila menyampaikan, “Lebih baik kita skriningnya atau membantu anak-anak pemeriksaannya langsung di sekolah. Itu biayanya juga jauh lebih rendah,”. Selain itu, pelaksanaan di sekolah juga dapat dipadukan dengan pemberian bantuan kacamata bagi murid yang membutuhkan.