Jakarta - Penyakit Ginjal Kronis (PGK) memiliki beberapa tahap, mulai dari kerusakan ginjal yang ringan hingga gagal ginjal yang parah. Penyakit ini dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga penting untuk memahami beberapa kesalahpahaman umum terkait kondisi ini agar penanganannya dapat dilakukan dengan baik.
1. Tidak Semua Penderita Ginjal Harus Cuci Darah
Sering kali, diagnosis penyakit ginjal langsung diasosiasikan dengan kebutuhan untuk menjalani cuci darah atau dialisis. Namun, tidak semua pengidap penyakit ginjal memerlukan prosedur tersebut. Menurut informasi dari laman Times of India, penyakit ginjal kronis dibagi menjadi beberapa stadium berdasarkan fungsi ginjal. Stadium 1 menunjukkan adanya kerusakan ginjal meskipun eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate) berada di angka 90 atau lebih. Sebaliknya, stadium 5 dengan eGFR di bawah 15 menunjukkan kondisi gagal ginjal yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.
Dr. Vikram Kalra, seorang konsultan nefrologis di CK Birla Hospital India, menyatakan, "CKD (Chronic Kidney Disease/penyakit ginjal kronis) tidak selalu berarti gagal ginjal."
2. Merasa Sehat Tidak Menjamin Kesehatan Ginjal
Pada tahap awal, penyakit ginjal sering kali tidak menampakkan gejala yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari keberadaannya hingga kondisi memburuk. Tes darah dan urine sederhana dapat membantu mendeteksi masalah ginjal, terutama bagi individu yang berisiko tinggi. Dr. Kalra menjelaskan, "Penyakit ginjal cenderung berkembang tanpa disadari, terutama pada fase awalnya."
Dr. Anupam Roy, seorang spesialis ginjal, menambahkan bahwa orang-orang yang memiliki faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Tes darah, termasuk kreatinin serum, serta tes urine dapat memberikan informasi penting mengenai kesehatan ginjal.
3. Minum Banyak Air Tidak Menyembuhkan Penyakit Ginjal
Air sering dianggap sebagai solusi untuk menjaga kesehatan ginjal. Namun, penting untuk dicatat bahwa penyakit ginjal tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan air. Meskipun hidrasi yang cukup penting, hal itu tidak dapat menyembuhkan kerusakan ginjal kronis. Dr. Kalra menyatakan, "Hanya dengan minum air saja tidak akan menyembuhkan cedera ginjal kronis." Asupan cairan yang tepat seharusnya disesuaikan dengan fungsi ginjal dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
4. Penyakit Ginjal Tidak Hanya Berpengaruh pada Ginjal
Ginjal memiliki peran penting dalam tubuh, dan penurunan fungsinya dapat menyebabkan masalah di bagian tubuh lainnya. Penyakit ginjal kronis dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, serta mempengaruhi tekanan darah dan kadar mineral dalam tubuh. Menurut Dr. Kalra, penyakit ginjal kronis dapat berdampak pada sistem kardiovaskular, tulang, dan keseimbangan mineral. Oleh karena itu, pengelolaan faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi sangat penting dalam perawatan ginjal.
5. Masih Ada Harapan Setelah Diagnosis Penyakit Ginjal Kronis
Dr. Roy menjelaskan bahwa pengobatan yang tepat dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal, tergantung pada penyebab dan stadium penyakit. Dr. Kalra menambahkan bahwa penanganan penyakit ginjal kronis melibatkan lebih dari sekadar pengobatan, termasuk diet, olahraga, pengendalian tekanan darah, dan pengawasan yang berkelanjutan. Penting juga untuk memahami perbedaan antara penyakit ginjal kronis dan penyakit ginjal akut, di mana yang pertama merujuk pada kerusakan ginjal yang berlangsung lama, sedangkan yang terakhir adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba.
Karena gejala penyakit ginjal kronis sering kali tidak terlihat pada tahap awal, dokter biasanya mengandalkan pengujian laboratorium. Bagi mereka yang berisiko, terutama penderita diabetes atau hipertensi, pemeriksaan rutin sangat penting untuk mendeteksi penyakit ginjal lebih awal, sehingga pengelolaan dan penundaan perkembangan penyakit dapat dilakukan dengan lebih baik.