Saham dari bank-bank besar di Indonesia menjadi target aksi jual oleh investor asing dalam dua hari perdagangan terakhir. Penjualan ini terjadi pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9), tekanan jual terlihat jelas seiring dengan penurunan harga saham keempat bank tersebut. BBRI mengalami penurunan paling tajam, yakni 3,64% menjadi Rp 3.180 per saham. Sementara itu, BBNI turun 1,38% menjadi Rp 3.570, BMRI terkoreksi 0,95% menjadi Rp 4.160, dan BBCA turun 0,4% ke level Rp 6.200.
Penyebab Aksi Jual
Senior Technical Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa tekanan terhadap saham bank besar pada perdagangan hari Selasa cukup terlihat. Dia menyebutkan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan harga saham perbankan adalah aksi jual oleh investor asing. "Tetapi menurut saya pemicunya bukan karena ada masalah fundamental baru yang tiba-tiba muncul di perbankan," ungkap Nafan.
Hingga sesi pertama perdagangan, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp 351,12 miliar. Saham yang paling banyak dilepas adalah BBRI dengan nilai sekitar Rp 129,6 miliar, diikuti oleh BMRI sebesar Rp 52,1 miliar dan BBCA sebesar Rp 42 miliar. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat turun 1,42% ke level 6.293.
Faktor-faktor yang Mendorong Aksi Jual
Nafan menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendorong aksi jual tersebut. Pertama, investor asing melakukan risk-off terhadap aset di Indonesia. Rupiah melemah sekitar 0,22% ke level Rp 17.887 per dolar AS, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7,1%. Hal ini menyebabkan investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko domestik, termasuk saham bank besar yang memiliki likuiditas tinggi.
Kedua, pasar saat ini sedang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September. Aksi jual ini juga mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan BI, terutama terkait suku bunga acuan dan stabilitas rupiah. Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada BI Rate yang akan dipertahankan di level 5,75%, sambil BI melanjutkan langkah stabilisasi rupiah.
Faktor ketiga adalah bahwa tekanan terhadap saham bank besar sebenarnya telah berlangsung sejak pekan lalu dan bukan hanya terjadi pada perdagangan Selasa. Pada periode 14–18 September, investor asing juga mencatat net sell besar pada BMRI dan BBCA. Nafan menambahkan bahwa bobot dan likuiditas saham bank besar membuat sektor ini sering menjadi sasaran ketika investor asing mengurangi risiko secara keseluruhan. "Big banks menjadi sasaran jual karena bobot dan likuiditasnya besar, bukan otomatis berarti asing sedang mengubah pandangan fundamental terhadap sektor perbankan Indonesia," jelasnya.
Menurut Nafan, tekanan saat ini lebih mencerminkan kombinasi foreign outflow, penguatan dolar AS yang menekan rupiah, kenaikan yield obligasi, serta sikap wait and see menjelang RDG BI. "Untuk sementara, saya melihat tekanan hari ini lebih banyak merupakan kombinasi foreign outflow, penguatan dolar atau rupiah yang tertekan, kenaikan yield obligasi, dan wait and see RDG BI, ketimbang adanya perubahan fundamental mendadak pada kinerja bank," tambahnya.
Nafan juga menekankan pentingnya bagi investor untuk memantau pergerakan foreign sell setelah keputusan BI. Jika aksi jual asing mulai mereda dan aliran dana kembali masuk ke saham bank besar, maka tekanan pada perdagangan hari ini bisa jadi mencerminkan aksi profit taking atau risk-off sementara. Sebaliknya, jika net sell berlanjut selama beberapa hari dan disertai pelemahan rupiah serta kenaikan yield SBN, maka tekanan terhadap saham bank besar perlu dicermati lebih lanjut.
Selain keputusan BI, kenaikan suku bunga bank sentral global juga menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan aset di pasar negara berkembang. Kenaikan suku bunga oleh The Fed dan Bank of Japan (BOJ) masing-masing sebesar 25 basis poin meningkatkan tekanan risk-off dan mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur pada aset pasar berkembang. Dengan demikian, keputusan RDG BI pada 22–23 September akan menjadi katalis selanjutnya yang akan diperhatikan oleh pasar, terutama terkait keputusan BI Rate di tengah tekanan terhadap rupiah, tingginya yield SBN, dan arus keluar dana asing.