Ekonomi

Angin Segar Berlalu Cepat: Dolar AS Kembali Tekan Rupiah hingga Rp 17.901

S
Safeera Anisa
24 September 2026 25 pembaca
ilustrasi kurs rupiah terhadap dollar AS. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
ilustrasi kurs rupiah terhadap dollar AS. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

JAKARTA — Kegembiraan pelaku pasar atas menguatnya mata uang garuda ternyata cuma bertahan seumur jagung. Setelah berhasil keluar dari tekanan pada pertengahan pekan, nilai tukar rupiah kembali terhempas ke zona merah pada pembukaan perdagangan Kamis (24/9/2023). Tepat pukul 09.14 WIB, kurs rupiah di pasar spot lunglai hingga menyentuh Rp 17.901 per dolar AS.

Catatan data Bloomberg memperlihatkan bahwa rupiah terdepresiasi sebesar 83 poin atau sekitar 0,47 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan Rabu (23/9/2023) yang berada di level Rp 17.818 per dolar AS. Tekanan ini terjadi seiring kembali perkasanya indeks dolar AS (DXY). Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut merangkak naik 0,04 persen menuju level 101,132, melanjutkan tren lonjakan tajam sebesar 0,49 persen pada Rabu kemarin.

Kilas Balik Perlawanan Rupiah dan Gebrakan Bank Indonesia

Jika menengok ke belakang, rupiah sebenarnya sempat berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat terjerembet pelemahan selama sembilan hari kerja secara beruntun. Titik balik sempat terlihat pada perdagangan Rabu (23/9/2023) ketika pergerakan rupiah spot berhasil membalas dengan apresiasi sebesar 0,37 persen atau menguat 66 poin.

Kenaikan tersebut dipicu oleh respons positif pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang memilih mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada posisi 5,75 persen. Tak hanya suku bunga acuan, bank sentral juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap di level 4,75 persen serta Lending Facility di angka 6,50 persen. BI menegaskan bahwa pijakan moneter ini diambil demi menjaga jangkar stabilitas nilai tukar rupiah sembari terus menyokong laju pertumbuhan ekonomi dan meredam inflasi. Gna membendung gempuran dari luar, BI berjanji bakal memperkuat insentif demi menjaring modal asing, mengoptimalkan beragam instrumen moneter, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing.

Gelombang Tekanan Eksternal yang Belum Mereda

Kendati perisai kebijakan moneter domestik telah dipasang, arus kencang dari ranah global tetap saja menggoyahkan pergerakan rupiah. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa tekanan pada mata uang nasional masih sangat berat. Menurut analisisnya, para pelaku pasar saat ini sedang mencermati paduan sentimen negatif global, mulai dari perkasanya indeks dolar AS, sikap hawkish para pejabat The Fed, membumbungnya harga minyak bumi, hingga ketidakpastian geopolitik.

Pandangan senada disampaikan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menjelaskan bahwa kemerosotan rupiah akhir-akhir ini memang bersumber dari himpitan faktor eksternal yang saling berkelindan, mencakup penguatan dolar AS, melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury, harga minyak yang bertengger di level tinggi, serta gejolak geopolitik dunia. Kendati demikian, Lukman menilai bahwa pasca-pelemahan beruntun tersebut, laju rupiah kini mulai bergeser ke area konsolidasi.

Meneropong Arah Pergerakan Kurs dan Batas Psikologis Rupiah

Memasuki sesi perdagangan selanjutnya, pergerakan kurs diprediksi bakal tetap diwarnai dinamika tinggi dengan kecenderungan melemah. Ibrahim Assuaibi memberikan estimasi rentang pergerakannya.

“Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.810-Rp 17.860 per dollar AS,” kata Ibrahim.

Sementara itu, Lukman Leong berpandangan bahwa fluktuasi masih akan membayangi gerak mata uang garuda dalam jangka pendek.

“Dalam jangka pendek rupiah masih volatil, tetapi ruang pelemahan mulai lebih terbatas jika tekanan global tidak kembali meningkat,” lanjut Lukman.

Lukman memaparkan bahwa peluang rupiah terseret kembali menuju level Rp 18.000 per dolar AS tetap terbuka lebar. Skenario terburuk itu bisa saja terwujud apabila The Fed memberikan sinyal hawkish lanjutan, imbal hasil obligasi AS melonjak, harga minyak kembali terkerek, atau terjadi eskalasi gejolak geopolitik. Meski demikian, posisi Rp 18.000 per dolar AS diyakini menjadi benteng psikologis yang teramat kokoh. Karena itu, dibutuhkan hantaman guncangan eksternal dalam skala masif agar nilai tukar rupiah mampu menjebol sekaligus bertahan di atas angka tersebut. Mengarungi horizon hingga akhir 2026, Lukman memproyeksikan rupiah bakal bergerak pada rentang Rp 17.500 sampai Rp 18.000 per dolar AS, di mana arahnya sangat bergantung pada landainya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia.

Artikel Terkait