Hari ini, Senin (28/9), saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami lonjakan antrean jual yang mencapai lebih dari 1 miliar lot pada perdagangan intraday, tepatnya pada pukul 09.48 WIB. Begitu perdagangan bursa dibuka, harga saham GOTO langsung terjun ke batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 14%, menjadi Rp 43. Penurunan ini terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Sebelumnya, saham GOTO telah berada di level gocap sejak 5 Mei 2026.
Analisis Tren Saham GOTO
Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa secara teknikal, saham GOTO masih berada dalam tren penurunan yang membentuk pola saluran paralel. Ia menilai bahwa saham ini berpotensi menguji area support di kisaran Rp 36 hingga Rp 27. “Lihat teknikal aja deh dulu, kira-kira ke Rp 27 (fair value GOTO),” ujarnya.
Ia juga mencatat bahwa dalam 15 menit pertama setelah pasar dibuka, saham GOTO langsung menyentuh batas ARB di harga Rp 43, dengan volume transaksi mencapai sekitar 482 ribu lot. Liza menambahkan bahwa jika ada investor yang ingin menjual 1 juta lot, belum tentu semua terjual, apalagi jika mempertimbangkan institusi asing yang memiliki puluhan juta lot atau miliaran lembar saham. “Berdasarkan logika sederhana di atas, most likely guyuran GOTO masih akan berlanjut besok-besok,” tambahnya.
Fundamental Bisnis GOTO
Sementara itu, Audrey Petriny, Kepala Hubungan Masyarakat GOTO, menjelaskan bahwa harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perusahaan yang terus menunjukkan penguatan. “Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp 50,” kata Audrey.
Audrey juga menegaskan bahwa kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 252 miliar dan berhasil membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih GOTO tercatat mencapai Rp 5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA melebihi Rp 1 triliun. “Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2-3,4 triliun,” tambahnya.
Audrey menekankan bahwa GOTO akan terus fokus memperkuat kinerja bisnis yang diyakini dapat memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.
Di tengah tingginya antrean jual saham GOTO, investor asing Morgan Stanley & Co International PLC justru melakukan pembelian 400 juta saham GOTO melalui pasar negosiasi pada 18 September 2026 dengan harga Rp 27 per saham. Aksi tersebut membuat kepemilikan Morgan Stanley di GOTO meningkat menjadi 80,93 miliar saham atau setara 7,02%. Namun, masih ada risiko yang mengintai saham emiten transportasi yang dikenal dengan nama Gojek ini.