Hiburan

Arie Kriting Soroti Nominasi FFI 2026, Pertanyakan Representasi Karakter dari Indonesia Timur

Arie Kriting mengungkapkan kritik terhadap pengumuman nominasi Festival Film Indonesia 2026, terutama terkait absennya Irma Rihi, yang dinilai tidak mencerminkan keberagaman karakter dari Indonesia Ti...

J
Jarot Kusna
15 October 2026 18 pembaca
suara.com Sumber: suara.com
Arie Kriting (Instagram)
Arie Kriting (Instagram)

Pengumuman nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2026 yang berlangsung pada 13 Oktober menuai kritik dari komika dan sutradara Arie Kriting. Ia menyoroti ketidakberadaan nama Irma Rihi, pemeran Mak dalam film Na Willa, dalam daftar nominasi, sementara lawan mainnya, Luisa Adreena, berhasil masuk sebagai salah satu nominator untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik.

Daftar nominasi tersebut mencakup nama-nama seperti Christine Hakim (Semua Akan Baik-Baik Saja), Marsha Timothy (Tukar Takdir), Meriam Bellina (Senin Harga Naik), dan Shenina Cinnamon (Dopamin). Arie Kriting mempertanyakan apakah karakter dari Indonesia Timur harus selalu digambarkan dalam kondisi menderita untuk mendapatkan perhatian. "Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap?" tulisnya dalam unggahan di Instagram pada 13 Oktober 2026.

Pentingnya Memperluas Sudut Pandang

Arie juga menambahkan, "Memangnya kenapa kalau berperan sebagai ibu pada umumnya seperti yang dimainkan oleh Irma Rihi di film Na Willa itu?" Ia menyarankan agar panitia FFI dapat membuka pandangan lebih luas dalam menilai karakter dari berbagai daerah agar tidak terjebak dalam penilaian yang dangkal.

"Menggali lagi biar sudut padangnya tidak dangkal dan berputar-putar di permukaan, lalu luput mengenali bentuk lain dari karakter yang hadir di layar lebar," ungkap sutradara film Kaka Boss ini.

Dukungan dari Sineas Lain

Kritik Arie Kriting menarik perhatian kalangan sineas lainnya. Sutradara Ernest Prakasa memberikan dukungan dengan menyatakan, "Sungguh amat layak @irmarihi. Semangat kak." Selain itu, sutradara Kamila Andini juga menilai bahwa tidak adanya beberapa nama besar seperti Irma Rihi merupakan catatan penting untuk FFI tahun ini. "Tidak ada Irma Rihi, tidak ada Gina S Noer, tidak ada Elisabeth Sisauta (Maira) adalah catatan saya untuk FFI tahun ini," ujarnya.

Menanggapi berbagai tanggapan yang muncul, Arie Kriting memberikan klarifikasi bahwa kritiknya merupakan bentuk kepedulian terhadap perkembangan industri film di Indonesia. "Ya mungkin ini cuma perasaan saya saja sebenarnya," katanya merendah. Ia berharap dewan juri FFI dapat lebih jeli dalam penilaian di masa mendatang dan ingin agar sudut pandang penjurian lebih luas dalam memahami dinamika karakter.

"Makanya di sini saya juga tidak bermaksud menggugat penilaian itu, siapalah saya ini. Di sini saya cuma mau saran saja," tutup Arie Kriting.

Artikel Terkait