Kesehatan

Asma Mendadak Akibat Paparan Abu Vulkanik: Penjelasan Dokter Paru

Paparan abu vulkanik saat erupsi gunung berapi dapat menyebabkan seseorang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat asma tiba-tiba mengalami serangan asma. Hal ini disebabkan oleh sifat iritatif dari ab...

E
Eira Orelia
08 September 2026 32 pembaca
Mendadak punya asma. Foto: iStock
Mendadak punya asma. Foto: iStock

Jakarta - Asma sering kali dianggap sebagai kondisi yang diturunkan atau bawaan dari lahir. Banyak individu merasa tidak berisiko mengalami asma karena tidak ada riwayat penyakit tersebut dalam keluarga mereka. Namun, kenyataannya, paparan abu vulkanik saat gunung berapi meletus bisa mengubah pandangan ini. Seseorang yang tidak pernah mengalami asma seumur hidupnya dapat mendapati dirinya mengalami serangan asma jika terus-menerus terpapar abu vulkanik.

Penyebab Kerusakan pada Saluran Pernapasan

Penyebab utama dari fenomena ini terletak pada sifat iritatif dari abu vulkanik. Abu vulkanik bukanlah debu biasa, melainkan mengandung berbagai mineral, logam, dan silika dengan tekstur kasar. Ketika terhirup, partikel-partikel tajam ini dapat melukai dan merusak lapisan pelindung (epitel) di saluran pernapasan. Kerusakan ini menyebabkan ujung saraf di saluran napas menjadi lebih sensitif.

Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), seorang praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, menjelaskan bahwa kerusakan pada epitel ini dapat memicu hipersensitivitas di saluran napas. "Kemudian kerusakan epitel ini juga bisa menyebabkan terbukanya reseptor saraf di saluran nafas. Ya, karena perlukaan dari debu-debu itu. Pembukaan epitel saraf yang terbuka akan menyebabkan orang menjadi lebih sensitif dan sebagai airway hypersensitive," ungkapnya dalam siaran detikPagi.

Dari Hipersensitivitas Menuju Asma Permanen

Ketika saluran napas berada dalam keadaan hipersensitif, organ pernapasan akan bereaksi berlebihan terhadap benda asing. Jika seseorang terus-menerus terpapar abu vulkanik dalam jangka waktu yang lama tanpa perlindungan, kondisi ini dapat memicu penyempitan saluran napas secara permanen, yang dikenal sebagai asma. Prof Agus menekankan bahwa individu tanpa riwayat genetik pun dapat menjadi korban: "Sehingga pada beberapa orang cenderung, airway hypersensitive itu akan menginduksi terjadinya asma. Bila pajanan berlanjut, orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya asma bisa jadi asma. Karena pajanan jangka panjang," jelasnya.

Proses ini biasanya dimulai dengan gejala iritasi ringan yang sering diabaikan. Ketika abu vulkanik masuk ke saluran napas, tubuh akan merespons dengan batuk dan rasa panas di tenggorokan. "Nah ini debu vulkanik yang banyak mengandung mineral, logam-logam, juga mengandung silika, salah satu yang paling banyak, sifatnya iritatif. Terhirup pasti bikin respons kita untuk batuk terasa panas di tenggorokan, nanti berlanjut jadi superinfeksi," tambahnya.

Jika gejala panas dan batuk iritasi ini dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai, peradangan akan terus berlanjut hingga merusak saraf saluran napas. Oleh karena itu, penggunaan masker saat terjadi erupsi gunung berapi sangat penting, bukan hanya untuk menghindari batuk sesaat, tetapi juga untuk mencegah kerusakan pada saluran napas yang dapat berujung pada asma di masa depan.

Artikel Terkait