Ekonomi

Bank Indonesia Kenalkan Kopi Spesialti Indonesia di Jepang Melalui SCAJ 2026

Bank Indonesia berpartisipasi dalam Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026 di Tokyo untuk memperluas pasar kopi spesialti Indonesia dan menjalin kerjasama dengan pelaku industri kopi Jepang...

D
Dinda Mughni
19 October 2026 4 pembaca
Tim Publikasi Katadata
Tim Publikasi Katadata

Bank Indonesia (BI) mengambil langkah untuk memperluas pasar kopi spesialti Indonesia dengan ikut serta dalam Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026 yang berlangsung di Tokyo, Jepang, dari tanggal 14 hingga 17 Oktober 2026. Acara World Specialty Coffee Conference and Exhibition ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan keragaman kopi Nusantara serta membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan dengan para pelaku industri kopi di Jepang.

Kopi spesialti yang berasal dari UMKM Indonesia berhasil menarik perhatian pengunjung pameran yang diprediksi akan dihadiri oleh sekitar 95.000 orang dari 80 negara. Paviliun Indonesia berada di antara paviliun negara-negara penghasil kopi lainnya, seperti Uganda, Kolombia, Tanzania, Kosta Rika, dan Brasil. Dalam pameran kopi spesialti terbesar di Asia ini, terdapat sekitar 750 booth yang berpartisipasi.

Potensi Ekspor Kopi Indonesia

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor kopi ke pasar global. Namun, untuk memanfaatkan potensi tersebut, diperlukan strategi pemasaran yang efektif agar kopi Indonesia semakin dikenal dan diminati oleh konsumen internasional. "Kita mempunyai potensi yang luar biasa kopi untuk diekspor dan untuk dijual ke dunia. Permasalahannya adalah satu, bahwa kita harus melakukan marketing yang baik," ungkap Ricky di acara SCAJ 2026 di Tokyo pada Rabu (14/10).

Indonesia dikenal memiliki berbagai jenis kopi dengan karakteristik dan cita rasa yang khas, mulai dari Gayo, Jawa, Sulawesi, Bali, Flores, hingga Papua. Keberagaman ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar kopi spesialti global. Saat ini, terdapat lebih dari 200 UMKM kopi yang dibina oleh Bank Indonesia, yang tersebar di berbagai daerah seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara.

Inisiatif untuk Memperkuat Akses Pasar

Dari total UMKM tersebut, sebanyak 20 UMKM terpilih untuk berpartisipasi dalam SCAJ 2026 berdasarkan kinerja usaha, kualitas kopi dengan cupping score di atas 80, dan kesesuaian dengan karakteristik pasar Jepang. Selain berpartisipasi dalam pameran, akses pasar kopi Indonesia juga diperkuat melalui Indonesia House of Beans (IHoB) yang hadir di Tokyo dan Osaka. IHoB berfungsi sebagai jembatan antara produsen kopi Indonesia dan calon pembeli di Jepang secara berkelanjutan.

Inisiatif ini juga didukung dengan peluncuran website IHoB yang diharapkan dapat mempermudah akses informasi dan komunikasi antara pelaku usaha kopi Indonesia dan mitra bisnis di Jepang. "Ini adalah platform praktis di mana pembeli Jepang dapat menemukan produk Indonesia, mempelajari tentang produsen kami, dan terhubung dengan mereka secara mudah. Kami juga mengapresiasi para mitra, seperti Kurasu," jelas Ricky P. Gozali.

Kurasu, salah satu mitra yang telah membeli kopi dari Indonesia selama lima tahun terakhir, memiliki sekitar 14 kedai yang tersebar di tujuh negara, dengan Indonesia menjadi negara dengan jumlah cabang terbanyak di luar Jepang. Founder dan CEO Kurasu, Yozo Otsuki, mengapresiasi keberadaan Indonesia House of Beans yang menghubungkan mereka dengan produsen kopi pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. "Semua kopi Indonesia sangat unik, sangat sulit untuk mencoba berbagai kopi secara bersamaan. House of Beans membawa semua kopi dari Sumatra, Bali, Jawa ke dalam satu tempat, sehingga kita dapat memilih yang cocok untuk disajikan di Jepang," ujarnya.

Peluang ekspansi kopi Indonesia ke pasar internasional semakin terlihat dengan pertumbuhan nilai ekspornya dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari International Trade Centre (ITC) Trade Map yang dikutip oleh Kementerian Perdagangan RI, nilai ekspor kopi Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Nilai ekspor kopi Indonesia tercatat sebesar US$ 929,1 juta pada 2023, meningkat menjadi US$ 1,64 miliar pada 2024, dan kembali melonjak hingga US$ 2,51 miliar pada 2025.

Sementara itu, nilai impor kopi Jepang pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$ 2,55 miliar, meningkat hampir 49 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ekspor kopi Indonesia ke Jepang baru mencapai sekitar US$ 67,37 juta atau sekitar 2,6 persen dari total impor kopi Jepang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi kopi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di Jepang.

Walaupun demikian, pelaku usaha kopi menghadapi tantangan dalam memasuki pasar internasional, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa banyak produk yang diperkenalkan atau dicicipi. Konsistensi kualitas dan kemampuan untuk memenuhi permintaan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pembeli dan mendapatkan pesanan berulang. Melalui pembinaan dan partisipasi dalam Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026, Bank Indonesia mendorong para petani kopi untuk memproduksi kopi berkualitas, mengelola usaha, serta memasarkan produk mereka agar diterima oleh mitra global. "Setiap cangkir kopi Indonesia bukan hanya tentang cita rasa, tetapi juga tentang cerita, kerja keras, dan harapan yang tumbuh bersama," tutup Ricky P. Gozali.

Berikut adalah daftar 20 UMKM kopi spesialti binaan Bank Indonesia yang tampil di Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ): Wanoja Coffee, Punjer’E Kopi, CV Poki Cahaya Abadi, Koperasi Produsen Emas Hijau Papua, Poktan Sumber Duren Ngawi, Koperasi Produsen Lembah Gunung Buhung, Bedhag Kopi, Melaya Coffee, Asa Coffee Gayo, Argopuro Walida, Kaghomasa, Posong Coffee Sindoro, Kikova Coffee, Koperasi Pedagang Kopi (Koperi) Keitara, Robusta Gunung Ambang, Dellacious Coffee, Java halu Coffee.

Artikel Terkait