Kesehatan

Batu Ginjal Tanpa Gejala: Apakah Tetap Berbahaya?

Batu ginjal sering diasosiasikan dengan rasa sakit yang hebat, namun tidak semua batu ginjal menimbulkan gejala. Meskipun tidak terasa sakit, batu ginjal tetap bisa berisiko bagi kesehatan.

V
Vina Maharani
22 September 2026 30 pembaca
Foto: Ilustrasi batu ginjal (Getty Images/Sewcream)
Foto: Ilustrasi batu ginjal (Getty Images/Sewcream)

Jakarta - Batu ginjal biasanya dikenal dengan gejala nyeri yang hebat di bagian pinggang atau perut. Namun, tidak semua batu ginjal menyebabkan rasa sakit. Dalam beberapa kasus, batu dapat berada di dalam ginjal tanpa menunjukkan gejala sama sekali. Meskipun demikian, batu ginjal yang tidak menimbulkan rasa sakit tidak selalu aman untuk diabaikan.

Tanpa Rasa Sakit, Batu Ginjal Bukan Berarti Tak Berbahaya

Salah satu mitos yang umum beredar mengenai batu ginjal adalah bahwa semua batu pasti menyebabkan nyeri yang parah. Batu kecil dapat tetap berada di ginjal tanpa gejala dan sering kali ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan USG atau pemeriksaan lainnya. Menurut laporan dari Times of India, rasa sakit biasanya mulai muncul ketika batu bergerak ke ureter dan menghalangi aliran urine. Nyeri dapat dirasakan mulai dari sisi atau punggung dan menjalar ke bagian bawah perut atau selangkangan. Gejala lain yang mungkin muncul termasuk mual, muntah, darah dalam urine, dan sensasi terbakar saat berkemih.

Dr. Prashant C. Dheerendra, seorang konsultan senior spesialis ginjal di Apollo Hospital, India, mengingatkan bahwa tidak adanya rasa sakit tidak berarti batu tersebut tidak berbahaya. Batu yang menghambat aliran urine dapat merusak fungsi ginjal seiring berjalannya waktu. Demam juga perlu diperhatikan, karena demam yang terkait dengan obstruksi saluran kemih bisa menandakan adanya infeksi yang memerlukan penanganan medis segera.

Satu Batu Bisa Meningkatkan Timbulnya Batu Lain

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memperkirakan bahwa sekitar 11 persen pria dan enam persen wanita akan mengalami batu ginjal setidaknya sekali dalam hidup mereka. Mereka yang pernah mengalami batu ginjal memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami batu ginjal kembali, terutama jika penyebab yang mendasarinya tidak berubah. Faktor seperti asupan cairan yang rendah, riwayat keluarga, obesitas, dan kondisi metabolik tertentu dapat meningkatkan risiko tersebut.

Bagi individu yang rentan terhadap batu ginjal, menjaga hidrasi merupakan langkah pencegahan yang sangat penting. Mengonsumsi cukup cairan dapat membantu menjaga urine tetap encer dan mengurangi kemungkinan pembentukan kristal dari mineral. Pola makan juga berperan penting; mengurangi konsumsi garam berlebih dan menghindari asupan protein hewani yang sangat tinggi dapat membantu, tergantung pada jenis batu yang dialami. Namun, sangat penting untuk tidak menghilangkan kalsium dari diet tanpa saran medis.

Pengobatan Bergantung pada Jenis Batu

NIDDK mencatat bahwa penanganan batu ginjal disesuaikan dengan ukuran, lokasi, dan jenis batu. Dr. Dheerendra menyatakan, "Tidak ada pengobatan universal untuk batu ginjal." Beberapa batu kecil dapat keluar dengan sendirinya melalui urine dengan pemantauan dan pengendalian nyeri yang tepat. Namun, kondisi tertentu mungkin memerlukan tindakan medis seperti ureteroskopi, ESWL, RIRS, atau PCNL, tergantung pada kasusnya. Pemeriksaan CT scan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai ukuran dan lokasi batu, sementara USG dapat mendeteksi berbagai jenis batu tanpa menggunakan radiasi.

Artikel Terkait