Jakarta - Kasus seorang bayi bernama Alena, yang berusia 24 hari dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya, menarik perhatian di media sosial. Bayi tersebut mengalami kondisi kesehatan yang kritis dan harus dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Alena dilaporkan mulai dirawat di rumah sakit pada Jumat (9/10) dan mendapatkan perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Informasi yang beredar menyatakan bahwa sebelum diduga diberikan telur mentah, Alena mengalami demam. Telur mentah tersebut diberikan oleh neneknya, yang merupakan ibu dari ayahnya, dengan harapan dapat menurunkan demam yang dialami Alena. Namun, kondisi Alena dilaporkan semakin memburuk, dan kabar duka mengenai meninggalnya Alena juga beredar di media sosial.
Pentingnya Memperhatikan Keamanan Pangan
Menanggapi isu ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memberikan makanan kepada bayi. Mereka menekankan pentingnya memperhatikan usia, perkembangan, dan keamanan pangan. IDAI menegaskan bahwa pemberian telur mentah atau setengah matang berisiko menyebabkan infeksi.
Ketua Umum IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa makanan yang diberikan kepada bayi harus sesuai dengan kebutuhan gizi dan kemampuan makannya. "IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, kemudian melanjutkan pemberian ASI disertai makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun atau lebih," ujarnya.
Rekomendasi Pemberian MPASI
Menurut rekomendasi WHO, MPASI umumnya dimulai ketika bayi berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan gizi bayi mulai melebihi apa yang dapat dipenuhi oleh ASI saja. Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia 4 bulan, tetapi hal ini harus didasarkan pada pertimbangan klinis dan kesiapan perkembangan bayi.
Dr Piprim menekankan bahwa keputusan untuk memberikan MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan. Kesiapan bayi untuk menerima MPASI perlu dinilai secara menyeluruh, termasuk kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher, duduk dengan bantuan, serta menunjukkan ketertarikan terhadap makanan.
Selain itu, dr Piprim juga mengingatkan bahwa pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia atau kemampuan bayi dapat meningkatkan risiko tersedak dan gangguan pemberian makan. Telur mentah atau setengah matang, khususnya, tidak dianjurkan karena dapat mengandung bakteri Salmonella yang berpotensi menyebabkan infeksi saluran cerna.
Infeksi ini dapat menimbulkan gejala serius seperti diare, demam, dan dehidrasi, terutama pada bayi dan anak kecil. IDAI menegaskan bahwa tidak ada manfaat gizi dari telur mentah atau setengah matang yang dapat membenarkan risiko yang ditimbulkan, sehingga keamanan, tekstur, dan cara penyajian makanan harus selalu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak.