Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menghapus seluruh saham yang tergolong dalam kategori kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham-saham ini saat ini memberikan kontribusi sekitar 18% terhadap bobot IHSG.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa langkah ini merupakan salah satu dari dua inisiatif baru dalam rangka melanjutkan reformasi integritas pasar modal di Indonesia. Keputusan ini diambil setelah MSCI merilis informasi terbaru yang membuka konsultasi untuk memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam kategori standalone market.
Inisiatif untuk Meningkatkan Transparansi
Menurut Jeffrey, inisiatif pertama adalah menambahkan informasi mengenai status afiliasi pemegang saham dalam publikasi daftar pemegang saham yang memiliki kepemilikan di atas 1%. Informasi ini akan menunjukkan apakah pemegang saham tersebut terafiliasi atau tidak.
Inisiatif kedua mencakup penghapusan semua saham HSC dari perhitungan IHSG, dengan tujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan integritas indeks. "Kedua inisiatif tersebut kami harapkan dapat memberikan transparansi yang lebih baik dan data pasar yang lebih berintegritas," ungkap Jeffrey saat berbicara kepada wartawan di Gedung BEI pada hari Senin (19/10).
Implikasi Penghapusan Saham HSC
Jeffrey menambahkan bahwa BEI akan mengumumkan waktu efektif penerapan kedua kebijakan tersebut. Dua inisiatif ini disampaikan setelah BEI melakukan pertemuan dengan perwakilan MSCI. Ia juga menjelaskan bahwa penghapusan saham HSC dari perhitungan IHSG tidak berarti bahwa saham-saham tersebut akan dihapus dari pencatatan bursa. Saham-saham ini tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak akan lagi memengaruhi pergerakan IHSG.
Beberapa saham HSC yang sebelumnya memiliki bobot besar dalam IHSG antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Sebelumnya, BEI juga telah mengeluarkan saham-saham HSC dari beberapa indeks unggulan seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Kebijakan serupa akan diperluas dengan mengecualikan seluruh saham HSC dari perhitungan IHSG.
Menurut Jeffrey, langkah ini bertujuan agar IHSG dapat lebih mencerminkan pergerakan pasar saham secara adil. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dinilai memiliki potensi risiko yang dapat memengaruhi pembentukan harga dan pergerakan indeks. "Untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG. Saat ini kisarannya 18%," jelas Jeffrey.