Nasional

Beli Motor Saja Tak Mampu, Lansia Pemulung di Surabaya Sempat Dicoret dari Bansos Usai Dituduh Punya Mobil

S
Safeera Anisa
13 October 2026 25 pembaca
Sulis Setyowati (62), pemulung di Surabaya yang masuk desil 7. (KOMPAS.com/AZWA SAFRINA)  KOMPAS.com
Sulis Setyowati (62), pemulung di Surabaya yang masuk desil 7. (KOMPAS.com/AZWA SAFRINA) KOMPAS.com

Sebab Kekeliruan Data Desil dan Penghentian Bantuan

Penetapan data desil penerima bantuan sosial (bansos) di Kota Surabaya, Jawa Timur, masih menyisakan persoalan ketidaksesuaian antara data administrasi dan realitas ekonomi warga. Dampaknya dialami oleh Sulis Setyowati (62), warga Kedungturi Gang 4, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya. Lansia yang menggantungkan hidup dari memulung sampah plastik ini terpaksa berhenti menerima bansos sejak 2022 karena namanya mendadak tercatat masuk ke dalam desil 7, yang dikategorikan sebagai kelompok masyarakat mampu.

Kekeliruan status desil tinggi tersebut dipicu oleh tindakan mantan majikan anaknya. Nama anak Sulis yang bekerja di toko elektronik kawasan Pasar Genteng pernah dipinjam oleh atasannya untuk membeli mobil. Karena penilaian desil mengacu pada Kartu Keluarga (KK), keluarga Sulis secara otomatis terdeteksi memiliki kendaraan roda empat, padahal untuk membeli sepeda motor pun mereka tidak sanggup.

Saat ditemui pada Minggu (11/10/2026), Sulis menceritakan kejadian tersebut: "Jadi anak saya itu kan kerja di toko elektronik di Pasar Genteng. Terus juragannya (majikannya) pernah pinjem nama anak saya buat beli mobil juragannya. Kan kalau desil itu dilihatnya dari KK (Kartu Keluarga) jadi dikiranya saya punya mobil, padahal motor saja enggak punya,".

Kehidupan di Gang Sempit dan Perjuangan Memulung

Di usianya yang makin senja, Sulis tinggal bersama suaminya yang berusia 67 tahun di sebuah rumah kontrakan beratap seng seluas 4x3 meter persegi di Kedungturi IV. Lokasi kontrakan tersebut berada di tengah permukiman padat dengan akses gang yang sangat sempit, sehingga kendaraan roda dua pun tidak bisa melintas. Sang suami sehari-hari bekerja sebagai buruh jahit dengan penghasilan yang tidak tentu. Sulis menjelaskan kondisi suaminya: "Saya di rumah bersama suami saja. Kesehariannya sebagai buruh jahit, jadi kalau ada jahitan baru kerja, kalau tidak ada ya nganggur,".

Untuk menutup biaya hidup serta sewa kontrakan, Sulis mengayuh sepeda tua rakitannya sendiri menyusuri lorong gang dari Kedungdoro hingga area Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) di Jalan Diponegoro. Rute sejauh 4,3 kilometer itu ditempuh setiap hari dalam dua sesi, yakni pukul 11.00–15.00 WIB dan 18.00–23.00 WIB.

Mengenai aktivitas hariannya di jalanan, Sulis menuturkan: "Ya, saya biasanya ambil-ambil sampah yang ada di pinggiran jalan, mini market, gitu tak ambil,". Setiap kali berkeliling, ia mengumpulkan rata-rata 6 kilogram barang bekas berupa botol plastik, kaleng, dan aluminium yang kemudian dijual ke pengepul di Kedungrukem. Dari kerja keras fisik tersebut, pendapatan bersih yang diperolehnya berkisar antara Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per hari.

Langkah Verifikasi Lapangan dan Penyesuaian Data

Sebelum bantuan dihentikan pada tahun 2022, Sulis mengaku rutin menerima jatah bansos sembako setiap tiga bulan. Mengenai penghentian bantuan tersebut, Sulis mengungkapkan: “Dulu itu dapat beras 10 kilogram sama bahan-bahan sembako lain. Tapi, tahun 2022 itu sudah enggak dapat lagi. Saya juga enggak tahu kenapa,”.

Persoalan ini mulai mendapat perhatian setelah dipublikasikan oleh media lokal Project Arek. Pihak Kelurahan Kedungdoro bersama Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya kemudian turun langsung mendatangi kediamannya untuk melakukan verifikasi data di lapangan. Setelah peninjauan tersebut mengonfirmasi kekeliruan akibat peminjaman nama kendaraan, status desil Sulis berhasil dikoreksi dan diturunkan ke desil 1. Sulis juga sempat menerima bantuan beras 30 kilogram dari kelurahan.

Mengenai bantuan yang diterimanya, Sulis menyampaikan: "Baru dapat lagi setelah diwawancara sama wartawan minggu lalu,". Ia menambahkan keterangannya terkait kelanjutan bantuan tersebut: "Katanya nunggu tiga bulan lagi, Desember baru bisa dapat (bantuan). Tapi itu kalau ada. Mugo-mugo sak teruse, gak mek iki tok (Semoga seterusnya, tidak hanya ini saja),".

Tindak Lanjut Hasil Muskel ke Pemerintah Pusat

Penyelia Musyawarah Kelurahan (Muskel) RT 04 RW 08 Kelurahan Kedungdoro, Ismadi, mengonfirmasi bahwa perbaikan data keluarga Sulis telah dirampungkan melalui mekanisme Muskel. Langkah peninjauan ulang ini menjalankan instruksi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi agar penyaluran bansos tidak berpatokan secara kaku pada angka desil semata.

Ismadi menjelaskan status terkini pendataan Sulis: "Saya cek di data sekarang, memang Sulis saat ini berada pada desil 1 dan sangat layak mendapatkan bantuan,". Ia menambahkan bahwa hasil Muskel kelurahan telah dikirimkan ke tingkat pusat: "Jadi data sudah diserahkan oleh kota ke pemerintah pusat. Yang jelas hasil Muskel seperti itu, nanti yang menentukan dari kementerian pusat,".

Di akhir keterangannya, Ismadi menegaskan fungsi Muskel dalam memperbaiki ketidaksesuaian data penerima bansos di masyarakat: "Permasalahannya beda-beda dan kebetulan Ibu Sulis seperti itu. Jadi, adanya Muskel membuat masyarakat yang sebelumnya tidak menerima bantuan, akan dimasukkan sebagai penerima bantuan,".

Artikel Terkait