Ekonomi

Beragam Pendekatan Figur Publik dalam Mengelola Investasi: Dari Saham hingga Kerugian di Kripto

Setiap individu memiliki cara unik dalam membangun stabilitas finansial, termasuk figur publik yang berbagi pengalaman investasi mereka, mulai dari saham hingga kerugian di aset kripto.

E
Eira Orelia
05 October 2026 25 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Setiap orang memiliki metode yang berbeda dalam membangun ketahanan finansial. Ada yang memulai investasi sejak usia muda dan berhasil meraih kebebasan finansial di usia tiga puluhan, sementara yang lain memilih untuk berinvestasi dalam proyek berkelanjutan dan mendiversifikasi aset serta bisnis mereka. Investasi merupakan langkah menempatkan modal atau aset pada instrumen tertentu dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan. Pilihan instrumen investasi pun sangat bervariasi, mulai dari emas, saham, obligasi, hingga reksa dana.

Bagi sebagian orang, tujuan investasi tidak hanya untuk mengejar keuntungan. Investasi juga berfungsi untuk melindungi nilai aset dari inflasi, mempersiapkan dana pensiun, dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Investasi bukan hanya untuk konglomerat atau pengusaha yang ingin memperluas bisnis; siapa pun dapat berinvestasi dengan menyesuaikan instrumen dan profil risiko sesuai dengan tujuan keuangan mereka.

Sejumlah figur publik memiliki kisah menarik terkait investasi. Contohnya, Raditya Dika yang mulai berinvestasi sejak muda dan berhasil mencapai kebebasan finansial di usia tiga puluh. Di sisi lain, Luna Maya memilih untuk mendiversifikasi investasinya ke berbagai instrumen dan bisnis, termasuk investasi yang berkelanjutan. Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor berpengalaman yang konsisten mengoleksi saham, bahkan dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia. Sementara itu, Lutfi Agizal, seorang pelakon FTV, mengalami kerugian miliaran rupiah akibat investasi di kripto.

Strategi Investasi Raditya Dika

Raditya Dika memiliki pendekatan tersendiri dalam mencapai kebebasan finansial di usia muda. Ia menerapkan konsep yang dikenal sebagai 4% rule. Menurutnya, seseorang dapat dianggap telah mencapai kebebasan finansial apabila memiliki dana yang cukup dalam instrumen investasi, yang dapat ditarik sekitar 4% setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa menghabiskan simpanan tersebut.

“Teknik itu menurutku namanya 4% rule. Kalau kamu punya uang sebanyak itu, kamu bisa tarik 4% setahun, kamu udah financially free sampai mati,” jelas Raditya dalam sebuah tayangan YouTube. Ia mengaku telah mengenal konsep ini sejak masa kuliah. Oleh karena itu, ketika mulai mendapatkan penghasilan dari menulis buku dan menyutradarai film, ia tidak hanya menggunakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyisihkan sebagian untuk investasi jangka panjang.

Raditya menambahkan, setiap kali ia mendapatkan penghasilan tambahan, termasuk bonus dari film yang ia garap, sebagian dari uang tersebut dialokasikan untuk dana pensiun dan instrumen investasi. “Jadi dari muda dapat bonus kan? Kalau film, sebagai sutradara biasanya kita ada bonusnya itu. Film laku, bonus gede. Nah selisihnya itu aku taruh di instrumen investasi kayak saham dan lain-lain,” tuturnya.

Investasi Beragam dari Luna Maya

Luna Maya, yang dikenal sebagai aktris, juga tidak melupakan pentingnya investasi. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan strategi investasinya yang telah dilakukannya sejak lama. Ia tidak hanya menempatkan kekayaannya pada satu instrumen, tetapi memiliki portofolio yang beragam, termasuk reksa dana, saham, obligasi, dan emas. Selain itu, ia juga berinvestasi di sektor startup pengelolaan sampah.

Luna lebih suka menyebut aktivitas investasinya sebagai “menabung”. Ia menjelaskan bahwa dana yang dimilikinya dialokasikan ke berbagai instrumen dengan proporsi yang berbeda. “Presentasi terbesar aku bilang menabungnya lah ya. Itu di reksa dana, saham, baru obligasi dan emas,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa dirinya telah menabung emas sejak lama, jauh sebelum harga logam mulia tersebut melonjak.

Pengalaman Investasi Lo Kheng Hong dan Lutfi Agizal

Lo Kheng Hong, yang dikenal sebagai “Warren Buffett-nya Indonesia”, memulai karir investasinya sejak 1989. Ia membangun pengetahuan dan portofolio investasinya selama bertahun-tahun. Pada tahun 1998, saat Indonesia mengalami krisis pasar, Lo tidak panik dan justru melihat situasi tersebut sebagai peluang untuk membeli saham dengan harga murah. Ia menerapkan strategi value investing, yaitu mencari perusahaan dengan fundamental baik namun harga sahamnya masih di bawah nilai wajar.

Sementara itu, Lutfi Agizal mengalami kerugian besar akibat investasi di kripto. Ia mulai berinvestasi di aset kripto pada tahun 2020, namun tidak menempatkan seluruh dananya di satu instrumen. “Prinsip investasi itu don't put your investment in one basket, harus disebar. Saya juga ada di saham dan di emas. Di kripto memang porsinya lebih banyak kemarin,” ujarnya. Kerugian yang dialaminya mencapai miliaran rupiah ketika pasar kripto mengalami penurunan, dan ia menyadari pentingnya mengatur rasio risiko dalam investasi.

Lutfi menambahkan bahwa meskipun mengalami kerugian, ia masih optimis bahwa pasar akan pulih. Ia memiliki kebiasaan untuk terus menginvestasikan kembali keuntungan yang diperoleh dan belum merealisasikannya. “Saya tipe orang yang ketika untung saya gulung terus, saya gulung terus di situ,” tuturnya.

Dengan beragam pendekatan dan pengalaman investasi, para figur publik ini menunjukkan bahwa investasi dapat dilakukan oleh siapa pun, asalkan disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Artikel Terkait