Kesehatan

Berbagi Cerita tentang Masalah Kesehatan Mental dengan ChatGPT: Ketentuan yang Harus Diperhatikan

Berbagi cerita mengenai masalah mental melalui chatbot AI seperti ChatGPT semakin umum. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pengalaman tersebut tetap bermanfaat.

J
Jaya Abdi
11 October 2026 21 pembaca
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Robert Way)
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Robert Way)

Jakarta - Menggunakan chatbot AI untuk curhat kini menjadi praktik yang semakin umum, termasuk dalam hal berbagi masalah kesehatan mental. Bagi mereka yang ingin berbagi cerita dengan ChatGPT, Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ, SubspKom(K), seorang spesialis kesehatan jiwa, mengingatkan beberapa syarat penting yang perlu dipatuhi.

Pentingnya Mengenali Diri Sendiri

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah pentingnya mengenali diri sendiri dan tetap berpikir rasional saat menggunakan layanan ini. Dengan pemahaman yang baik tentang diri sendiri, individu akan lebih mampu menentukan kebutuhan mereka, termasuk jenis bantuan yang diperlukan.

Penggunaan yang Rasional dan Kritis

Dr. Hervita menekankan bahwa penggunaan ChatGPT harus dilakukan dengan pendekatan yang rasional dan kritis. "Tetap harus digunakan rasionalnya. Ini saya apa nggak, ya? Ini cocok nggak dengan saya atau nggak?" ujarnya dalam sebuah acara temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, pada hari Jumat (9/10/2026).

Ia juga menambahkan, jika penggunaan ChatGPT tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi langsung dan mendapatkan umpan balik, maka sebaiknya individu tersebut mencari bantuan dari profesional. "Lalu kalau dirasakan penggunaan itu ternyata tidak bisa menghentikan keinginan teman-teman untuk berkomunikasi langsung tahu mendapatkan jawaban, feedback, karena kan manusia butuh manusia kan, ya mungkin ada baiknya teman-teman ke profesional," sambungnya.

Dr. Hervita menyarankan agar puskesmas menjadi pilihan terdekat untuk mendapatkan bantuan di sektor kesehatan. Saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia juga sedang berupaya untuk meningkatkan akses terhadap psikolog di puskesmas, sehingga layanan kesehatan mental dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Selain puskesmas, terdapat juga banyak layanan hotline untuk konseling, termasuk yang disediakan oleh Kemenkes melalui hotline di nomor 119. "Tapi yang paling penting, teman-teman paling tahu apa yang terjadi dalam diri teman-teman," tutupnya.

Artikel Terkait