Ekonomi

BI Pertahankan Suku Bunga di Tengah Kenaikan The Fed, Catat Inflow US$ 6 Juta

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI rate di angka 5,75% meskipun The Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga, dan berhasil menarik aliran modal asing sebesar US$ 6 miliar melalui inse...

E
Eira Orelia
29 September 2026 18 pembaca
Ade Rosman
Ade Rosman

Bank Indonesia (BI) memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, meskipun The Federal Reserve (The Fed) telah memulai kenaikan suku bunga dan memberikan sinyal untuk melanjutkan kebijakan tersebut pada kuartal IV 2026. Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa bank sentral lebih memilih menggunakan instrumen lain selain suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik aliran modal asing.

Strategi Hedging untuk Menarik Modal Asing

Destry menyatakan bahwa salah satu langkah yang diambil adalah memberikan insentif untuk biaya lindung nilai (hedging) melalui transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). “Alhamdulillah dengan kebijakan hedging insentif yang kami berlakukan sebulan kemarin, kami sudah melihat inflow sudah masuk, baik melalui DNDF ataupun swap sebesar sekitar US$ 6 miliar,” ungkapnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada hari Senin (28/9).

Ia menekankan bahwa BI tidak secara otomatis mengikuti langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga. Setiap keputusan yang diambil berkaitan dengan suku bunga didasarkan pada penilaian kondisi ekonomi serta dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas. “Kami melakukan asesmen, Bapak Ibu sekalian. Kami juga melakukan stress test analysis juga dan kita juga melihat setiap dampak dari kenaikan BI rate atau kenaikan rupiah dampaknya terhadap ekonomi itu seperti apa,” jelasnya.

Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Destry juga menjelaskan bahwa salah satu alasan BI menahan suku bunga adalah karena inflasi masih dalam batas yang terkendali. Ia mencatat bahwa inflasi inti berada di sekitar 2%, sedangkan inflasi utama mencapai 3,19%. “Anchor kami adalah inflasi dan saat ini juga kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2 persenan,” tuturnya.

Selain itu, BI mencatat bahwa perekonomian Indonesia masih beroperasi di bawah kapasitas potensialnya, yang terlihat dari output gap yang negatif. “Nah jadi kembali yang kami sampaikan bahwa anchor kami tetap melihat inflasi karena begitu besar dampak inflasi ke mana-mana,” tambahnya.

Menurut penilaian BI pada bulan Agustus, jika BI Rate naik sebesar 25 basis poin, maka pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan turun sebesar 0,1%. “Kalau BI Rate naik 25 basis point, pertumbuhan ekonomi akan turun 0,1%,” sebut Destry.

Dengan pertimbangan tersebut, BI memilih untuk menggunakan instrumen lain dalam menjaga stabilitas tanpa menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. “Tanpa kita menaikkan suku bunga ataupun menaikkan SRBI rate kita berharap ada inflow yang masuk,” katanya.

Langkah ini juga merupakan respons bank sentral terhadap kondisi global yang masih penuh tekanan. Destry mengungkapkan bahwa kebijakan moneter yang ketat di tingkat global dapat menyebabkan perpindahan arus modal dari negara berkembang ke negara maju, terutama Amerika Serikat. BI memperkirakan bahwa The Fed akan melakukan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada kuartal IV 2026, yang menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena dapat memberikan tekanan terhadap aliran modal dan stabilitas nilai tukar.

Oleh karena itu, BI akan menerapkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter akan lebih diarahkan untuk stabilitas, sementara kebijakan lainnya untuk mendorong pertumbuhan. Destry menegaskan bahwa BI tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam mengatasi inflasi yang berasal dari komponen volatile food. “Jadi harus bersama-sama, makanya kenapa dalam arah saya ke depan sinergi itu sangat penting,” pungkasnya.

Artikel Terkait