Ekonomi

BRI Tunjukkan Kinerja Positif dengan Likuiditas yang Stabil

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melaporkan kinerja yang baik hingga Triwulan II 2026, didukung oleh likuiditas yang sehat dan struktur pendanaan yang berkualitas.

J
Jarot Kusna
07 September 2026 32 pembaca
Tim Publikasi Katadata
Tim Publikasi Katadata

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, lebih dikenal sebagai BRI, mencatatkan hasil yang menggembirakan hingga Triwulan II 2026. Hal ini terlihat dari likuiditas yang cukup, kualitas struktur pendanaan yang semakin baik, serta permodalan yang solid. Kondisi ini menjadi dasar bagi BRI untuk terus tumbuh secara berkelanjutan dan menjalankan fungsi intermediasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menyampaikan informasi tersebut dalam konferensi pers mengenai kinerja keuangan BRI untuk Triwulan II 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI, Jakarta. Ia menegaskan bahwa likuiditas BRI tetap terjaga pada tingkat yang memadai, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank mencapai 90,8 persen, yang masih berada dalam batas ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi. Di sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5 persen pada periode yang sama.

“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad Royadi dalam keterangan resmi pada Senin (7/9).

Struktur Pendanaan yang Berkualitas

Kondisi likuiditas BRI juga didukung oleh struktur pendanaan yang semakin berkualitas. Hingga akhir Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 6,7 persen secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan komposisi dana murah, yang tercermin dari rasio CASA yang naik dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen.

Likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang berkualitas memberikan kesempatan bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Selain itu, permodalan yang kuat memungkinkan perusahaan untuk mendukung ekspansi bisnis sambil tetap menjaga ketahanan terhadap risiko.

Peningkatan Kualitas Aset dan Manajemen Risiko

Di tengah pertumbuhan yang positif, BRI tetap memprioritaskan kualitas dalam penyaluran kredit dan pengelolaan risiko yang disiplin. Hal ini terlihat dari perbaikan kualitas aset, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang menurun dari 3,07 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026. Tren ini sejalan dengan strategi pengelolaan risiko BRI, termasuk penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.

Kinerja positif juga tercermin dari indikator risiko kredit yang semakin membaik. Rasio Loan at Risk (LaR) turun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1 persen pada akhir Triwulan II 2026, menunjukkan kualitas booking kredit baru yang semakin baik. Selain itu, Cost of Credit (CoC) juga menurun dari 3,4 persen pada akhir 2025 menjadi 3,1 persen pada akhir Triwulan II 2026.

Fundamental yang kuat ini mendukung kinerja BRI sepanjang Triwulan II 2026, dengan total aset mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh akselerasi kredit yang meningkat sebesar 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Kombinasi antara pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental ini mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen yoy.

Kekuatan fundamental ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi, terutama dalam segmen UMKM yang menjadi inti bisnis perusahaan. Fokus pada UMKM tidak hanya bertujuan untuk memperluas inklusi keuangan, tetapi juga sejalan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah.

Artikel Terkait