Nasional

Bye-Bye Asap Hitam: Bus Listrik Angin Segar Baru di Rute Utama Semarang

S
Safeera Anisa
25 September 2026 42 pembaca
Bus Listrik Trans Semarang resmi beroperasi melayani Koridor 1 Trans Semarang rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron yang menghubungkan wilayah barat dan timur Semarang, Rabu (23/9/2026). (Pemkot Semarang)
Bus Listrik Trans Semarang resmi beroperasi melayani Koridor 1 Trans Semarang rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron yang menghubungkan wilayah barat dan timur Semarang, Rabu (23/9/2026). (Pemkot Semarang)

SEMARANG — Warga Semarang tentu akrab dengan julukan "cumi-cumi darat", sebutan jenaka sekaligus keluhan untuk bus kota berpolusi tinggi yang saban hari membelah jalanan. Namun, pemandangan penuh kepulan asap hitam itu kini perlahan mulai bergeser seiring hadirnya wajah baru dalam transportasi publik Kota Lumpia.

Langkah Awal Rute Mangkang–Penggaron

Terhitung sejak Rabu (23/9/2026), dua unit bus listrik ramah lingkungan resmi mengaspal melayani penumpang Koridor 1 pada rute Terminal Mangkang–Terminal Penggaron secara pulang-pergi (PP). Pengoperasian bus nir-emisi ini menjadi jembatan awal dalam menggantikan armada konvensional di jalur vital penghubung wilayah barat dan timur Semarang.

Langkah awal ini menandai dimulainya program peremajaan armada berskala besar oleh Pemerintah Kota Semarang. Saat ditemui di Gerhana Resto pada Kamis (24/9/2026), Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menguraikan peta jalan pembaharuan moda transportasi masal ini.

"Jadi dari 283 ini kita meremajakan 132 unit. Termasuk 27 yang electric vehicle (EV)," kata Haris.

Haris menyampaikan bahwa keseluruhan 27 bus listrik yang disuplai oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas ditargetkan dapat beroperasi secara penuh pada November 2026. Proses penambahan unit akan bergulir rutin setiap pekan mulai Oktober hingga pertengahan November, dengan pasokan minimal tiga unit per gelombang.

Alasan Di Balik Prioritas Koridor 1

Keputusan memilih Koridor 1 sebagai lini prioritas peremajaan bukanlah hal yang mendadak. Usai pematangan rencana selama dua tahun, pengalihan ke teknologi listrik ini didasari tekad kuat menghadirkan angkutan umum yang bersih dari polusi udara.

"Faktor utamanya mengurangi gas buang," tegas Haris.

Selain fokus menekan kadar emisi, Koridor 1 memegang peran strategis sebagai tulang punggung jalur Trans Semarang sejak awal berdiri. Kondisi bus lama di rute ini pun sudah waktunya dipensiunkan. Di saat bersamaan, lintasan ini mencatatkan volume penumpang paling padat serta menjadi sumber pendapatan terbesar Trans Semarang dari sektor reklame.

Ke depan, pihak pengelola menargetkan transformasi total di mana seluruh armada angkutan kota bakal beralih penuh ke bus berbasis listrik dalam kurun waktu lebih dari lima tahun mendatang.

Kenyamanan Armada dan Aksesibilitas Lansia

Secara fisik, bus listrik baru ini merupakan varian big bus berukuran panjang 12 meter yang berdaya tampung ideal 48 penumpang, baik posisi duduk maupun berdiri. Saat kondisi rute mencapai puncaknya di jam sibuk, armada ini mampu mengangkut hingga 60 orang atau lebih.

Untuk urusan mobilitas, keandalan baterai tak perlu diragukan karena sanggup menempuh jarak sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian penuh. Kemampuan ini dirancang agar kendaraan sanggup melayani perjalanan seharian tanpa harus menyela operasional untuk isi ulang daya.

Dihubungi pada kesempatan terpisah, Direktur Utama VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, menyebutkan bahwa desain bus secara khusus menggunakan lantai rendah (low deck) demi memudahkan aksesibilitas seluruh warga, terkhusus bagi para lansia.

"Ini bukan sekadar mengganti kendaraan konvensional menjadi listrik, tetapi bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang lebih nyaman, bersih, dan inklusif."

"Melalui armada yang lebih senyap, tanpa emisi gas buang langsung, serta berdesain low deck yang lebih aksesibel, kami ingin mendukung pengalaman masyarakat dalam menggunakan transportasi publik,” ujar pria yang akrab disapa Ardi tersebut.

Artikel Terkait