Jakarta - Banyak individu cenderung mengabaikan luka kecil pada kulit dan membiarkannya sembuh dengan sendirinya hingga mengering. Namun, kebiasaan ini dapat menjadi penyebab utama munculnya bekas luka yang sulit dihilangkan. Spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Pipim Septiana Bayasari Yudho Purwono, SpDVE, menyatakan bahwa keluhan mengenai bekas luka, baik berupa hiperpigmentasi maupun jaringan parut, adalah yang paling sering diterima di kliniknya.
“Dan ketika dia ingin menghilangkan bekas, entah itu hiperpigmentasi atau scar, itu jauh lebih sulit daripada mencegah di awal,” ungkap dr. Pipim pada acara media di Jakarta Selatan, Sabtu (12/9/2026). Selain itu, perawatan untuk menghilangkan bekas luka yang sudah terbentuk memerlukan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan penanganan awal.
Pentingnya Perawatan Luka Sejak Dini
Dr. Pipim menekankan bahwa penanganan luka yang tepat harus dilakukan segera setelah luka terjadi, untuk memastikan proses penyembuhan yang optimal dan meminimalisir risiko munculnya bekas. Langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan meliputi:
- Bersihkan luka: Gunakan produk pembersih yang lembut agar tidak menimbulkan iritasi tambahan.
- Gunakan pelembab: Menjaga kelembapan pada area luka sangat penting untuk mempercepat regenerasi jaringan kulit.
Sering kali, orang salah kaprah dengan menghentikan perawatan setelah permukaan luka menutup. Padahal, fondasi kulit di area tersebut mungkin belum sepenuhnya pulih. “Kulit itu secara superficial mungkin akan tertutup dengan baik. Tapi secara skin barrier, fondasinya belum tentu baik. Dan itu butuh 3 sampai 6 bulan untuk memperkuat fondasinya,” jelasnya.
Apabila perawatan dihentikan terlalu cepat, area kulit yang pernah terluka akan rentan mengalami luka berulang ketika terkena pemicu baru. Menurut dr. Pipim, menjaga kelembapan dan skin barrier adalah hal mendasar yang harus dilakukan secara konsisten selama 3-6 bulan setelah luka, atau bahkan dipertahankan seumur hidup.
Langkah Pencegahan untuk Individu Rentan
Bagi mereka yang memiliki faktor genetik yang membuatnya mudah mengalami keloid atau jaringan parut tebal, dr. Pipim menyarankan agar melakukan tindakan pencegahan tambahan setelah luka tertutup. Penggunaan plester khusus, seperti plester gel silikon, sangat dianjurkan untuk menahan pertumbuhan jaringan parut agar tidak semakin menonjol.
“Setelah itu, kita tanya apabila ada genetiknya gampang scar, gampang keloid, sebaiknya menggunakan plester untuk mencegah terjadinya jaringan parut yang lebih tebal lagi,” pungkasnya.