Jakarta - Ketika seseorang mengalami kecemasan, terutama akibat paparan berita negatif yang terus-menerus, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi sangat krusial dalam meredakan kondisi tersebut. Alih-alih langsung meminta mereka untuk tenang, langkah awal yang sebaiknya diambil adalah membantu mereka merasa aman dan tidak sendirian.
Psikolog Meity Arianty menjelaskan bahwa individu yang tengah mengalami kecemasan perlu "dipijakkan" terlebih dahulu sebelum bisa benar-benar menenangkan diri. Menurutnya, meminta seseorang untuk tenang saat mereka berada dalam keadaan cemas yang mendalam tidak selalu realistis. "Kalau seseorang sudah mulai merasa cemas, yang paling penting itu sebenarnya bukan menyuruh dia tenang, tapi dia napak dulu, karena kalau orang cemas, aku mengatakan buat kita itu kayak lagi ngambang," ungkapnya dalam tayangan detikPagi.
Memberikan Rasa Aman
Kondisi cemas dapat diibaratkan seperti seseorang yang berada dalam situasi yang tidak stabil. Dalam keadaan tersebut, tidak mungkin untuk meminta mereka tenang secara langsung. Oleh karena itu, orang-orang di sekitarnya perlu memberikan rasa aman terlebih dahulu. "Kita harus membantu dia merasa aman dulu. Didengar, tidak sendirian," tambahnya.
Meity menjelaskan beberapa langkah yang dapat diambil oleh teman, keluarga, atau orang terdekat saat berhadapan dengan seseorang yang sedang mengalami kecemasan. "Lihat, apa yang dia butuhkan? Biasanya yang paling dekat. Orang butuh apa sih? Makan, istirahat, tidur, informasi, tapi informasi yang benar ya, dan lain-lain," jelasnya.
Menjadi Pendengar yang Baik
Setelah mengetahui kebutuhan mereka, penting untuk mendengarkan keluhan yang disampaikan. "Bukan untuk ceramahin. Jadi jangan maksa cerita juga. Udah diam aja mendengarkan," tuturnya. Selanjutnya, berikan rasa nyaman dan bantu mereka untuk merasa lebih tenang. Salah satu cara adalah dengan menghubungkan mereka dengan orang-orang terdekat, seperti keluarga. "Supaya dia bisa protect dirinya, gitu ya," ujarnya.
Terakhir, memberikan harapan juga sangat penting, namun harapan yang disampaikan sebaiknya bersifat realistis dan bukan sekadar janji kosong. "Bukan harapan palsu, tapi yang penting realistis," tutupnya.