Kesehatan

Dampak Karhutla: 62 Ribu Balita Terkena ISPA di Indonesia

Lebih dari 62 ribu balita di Indonesia mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah untuk mengatasi masal...

D
Dinda Mughni
16 October 2026 16 pembaca
5 Fakta Terkini OTT Bupati Klaten: Barbuk Rp 1 M, Puluhan Orang Ditangkap
5 Fakta Terkini OTT Bupati Klaten: Barbuk Rp 1 M, Puluhan Orang Ditangkap

Jakarta - Beberapa provinsi di Indonesia telah menetapkan status siaga darurat dan tanggap darurat dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lebih dari 13 juta orang berisiko mengalami masalah kesehatan akibat karhutla. Menurut laporan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI per 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota dari 7 provinsi yang terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus terjadi pada balita berusia 0-5 tahun.

Kementerian Kesehatan menyatakan, "Asap Karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata/kulit, perburukan asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke." Mereka juga menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK.

Pembagian Masker untuk Masyarakat Terdampak

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker kepada masyarakat di daerah yang terkena dampak karhutla. Penyaluran masker ini akan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan di lapangan. "Ini akan kita tambah lagi sesuai dengan kebutuhan yang ada. Kemudian penanganan-penanganan kasus infeksi saluran pernapasan atas, itu juga akan kita lakukan," jelas Dante saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, pada Kamis (15/10/2026).

Selain itu, Dante menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan akan memperkuat sistem surveilans dan meningkatkan fasilitas kesehatan untuk melayani masyarakat yang mengalami masalah kesehatan akibat karhutla. Edukasi mengenai pencegahan infeksi saluran pernapasan juga terus dilakukan.

Wilayah dengan ISPU Berbahaya

Berdasarkan data dari Stasiun Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) per Kamis pukul 12.05 WIB, Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah mencatat ISPU tertinggi dengan angka 1.551. Parameter pencemar kritis yang terdeteksi di wilayah tersebut adalah PM2.5. Selain Katingan, Palangka Raya juga mencatat ISPU 1.294, dan Kabupaten Gunung Mas dengan angka 1.006. Wilayah lain yang juga mengalami ISPU tinggi antara lain Banjarmasin di Kalimantan Selatan dengan angka 740 dan Palembang di Sumatera Selatan dengan 644.

Berikut adalah sepuluh lokasi dengan ISPU tertinggi pada Kamis (15/10/2026) pukul 12.05 WIB:

  1. Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah: 1.551
  2. Palangka Raya, Kalimantan Tengah: 1.294
  3. Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah: 1.006
  4. Banjarmasin, Kalimantan Selatan: 740
  5. Palembang, Sumatera Selatan: 644
  6. Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah: 606
  7. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan: 542
  8. Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan: 475
  9. Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah: 403
  10. Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah: 400

Seluruh lokasi tersebut mencatat PM2.5 sebagai parameter pencemar kritis. PM2.5 adalah partikel halus yang dapat masuk ke dalam paru-paru saat terhirup dan berdampak pada kesehatan. "Karena ukurannya sangat halus, PM2.5 dapat masuk lebih dalam ke paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kelompok yang paling rentan terdampak antara lain anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung," jelas BMKG.

BMKG juga menambahkan, "Paparan Particulate Matter dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Sementara itu, paparan jangka panjang, terutama PM2.5 dan PM1, berpotensi meningkatkan risiko gangguan paru-paru, penyakit kardiovaskular, serta menurunkan kualitas hidup masyarakat."

Informasi lebih lanjut dapat disaksikan dalam program detikPagi edisi Jumat (16/7/2026) yang disiarkan secara langsung pada hari Senin hingga Jumat dari pukul 08.00-11.00 WIB.

Artikel Terkait