Jakarta - Banyak individu yang mengabaikan waktu tidur mereka karena berbagai alasan, seperti tuntutan pekerjaan atau menonton acara televisi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan begadang ini menjadi hal yang biasa. Kurang tidur telah dihubungkan dengan berbagai masalah kesehatan, namun muncul pertanyaan apakah kurang tidur dapat meningkatkan risiko kanker.
Dr. Ashish B. Agrawal, Kepala Onkologi Medis, Hematologi, dan BMT Sarvodaya di Sektor-8, Faridabad, menyatakan bahwa saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara kurang tidur dan kanker. Meski demikian, gangguan tidur yang berkepanjangan perlu mendapatkan perhatian lebih.
"Bukti pada manusia saat ini belum cukup kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur dan ritme sirkadian yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem biologis yang berperan dalam perkembangan kanker," ungkap Dr. Agrawal.
Risiko Kanker dan Kualitas Tidur
Kurang tidur dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan kanker. Meskipun tidak ada hubungan langsung yang terdeteksi, kurang tidur secara kronis dapat memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan risiko kanker. Dr. Agrawal mengingatkan pentingnya menjadikan tidur sebagai prioritas dan bukan hal yang bisa dikorbankan.
Namun, ia menekankan bahwa tidak perlu khawatir berlebihan jika terkadang harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaan. "Satu atau dua malam dengan kualitas tidur yang buruk tidak diperkirakan memengaruhi risiko seseorang terkena kanker," jelasnya.
Pola Tidur yang Perlu Diwaspadai
Kurang tidur menjadi masalah serius ketika hal ini menjadi pola yang terus-menerus, bukan hanya sesekali. Ketidakaturan jadwal tidur dan pekerjaan malam dapat mengganggu jam internal tubuh. "Masalah sebenarnya adalah kurang tidur kronis yang disertai pola tidur yang tidak konsisten dan pola kerja malam hari. Tubuh kita diprogram sesuai dengan ritme sirkadian, yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk tidur, pelepasan hormon, proses metabolisme, mekanisme pertahanan tubuh, dan pemulihan," kata Dr. Agrawal.
Ketika tubuh tidak mendapatkan tidur berkualitas dalam jangka waktu lama, keseimbangan hormon, metabolisme, pertahanan kekebalan tubuh, dan kemampuan untuk pulih dapat terganggu. Gangguan pada sistem-sistem ini dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung perkembangan penyakit.
Dr. Agrawal juga menyoroti peran melatonin, hormon yang berhubungan dengan siklus tidur-bangun. "Melatonin juga berinteraksi dengan jalur yang terlibat dalam stres oksidatif, kerusakan DNA, dan proliferasi sel. Paparan cahaya berulang di malam hari dapat menekan sinyal melatonin normal," tambahnya.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa kurang tidur kronis dapat menyebabkan peradangan sistemik yang dapat memengaruhi fungsi sel imun dan regulasi metabolisme. "Stres oksidatif yang berlebihan dapat merusak protein dan DNA, tetapi kerusakan DNA tidak secara otomatis menyebabkan kanker karena sel memiliki cara untuk memperbaikinya. Namun, kerusakan DNA yang berulang bersamaan dengan kegagalan untuk mengatur proses tersebut dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan karsinogenesis, yaitu transformasi sel normal menjadi sel ganas," tutupnya.