Ekonomi

--- Dampak Positif dan Negatif Transaksi Digital bagi Generasi Muda ---

--- Kemudahan dalam transaksi digital memberikan keuntungan sekaligus risiko bagi anak muda, terutama dalam hal pengeluaran impulsif yang dapat mempengaruhi keuangan mereka. ---

J
Jarot Kusna
04 October 2026 27 pembaca
Image title
Image title
---TITLEEXCERPT--- Kemudahan dalam transaksi digital memberikan keuntungan sekaligus risiko bagi anak muda, terutama dalam hal pengeluaran impulsif yang dapat mempengaruhi keuangan mereka. ---CONTENT---

Transaksi digital yang semakin mudah diakses oleh masyarakat membuat pengeluaran uang menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, di balik kenyamanan ini, muncul risiko baru yang dikenal sebagai financial digital trap, di mana kemudahan berbelanja dapat mendorong individu untuk mengeluarkan uang secara impulsif.

Sania Latifa, dari Business Development Databoks Katadata, menjelaskan bahwa perubahan perilaku keuangan masyarakat berkaitan erat dengan kemajuan teknologi. Dengan adanya e-wallet, mobile banking, dan layanan paylater, akses terhadap uang kini hanya memerlukan smartphone. “Financial digital trap. When spending becomes too easy,” ungkapnya dalam acara Cerdas Literasi Keuangan Digital: Cerdas Bertransaksi, Bijak Berinvestasi yang diselenggarakan oleh Katadata.

Perubahan Perilaku Belanja

Menurut Sania, fenomena ini terlihat jelas dalam cara orang berbelanja saat ini. Konsumen dapat dengan mudah melihat produk di media sosial, merasa tertarik, dan melakukan pembayaran hanya dengan beberapa klik. “Misalnya lihat barang di media sosial, ada sepatu, ‘ih lucu’. Terus kita tinggal langsung sekali klik. Untuk bayar juga tinggal klik,” jelasnya.

Proses pembayaran kini dapat dilakukan melalui berbagai saluran digital, mulai dari dompet elektronik hingga transfer bank dan layanan paylater. Semua ini dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Sania membandingkan dengan generasi sebelumnya yang harus melalui lebih banyak langkah, seperti pergi ke ATM dan mengeluarkan uang secara fisik, yang secara psikologis membuat mereka lebih mempertimbangkan keputusan belanja.

“Dengan mudahnya uang itu keluar, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana kemampuan kita dalam menyisihkan uang?” tambahnya. Data dari Databoks menunjukkan bahwa 31% anak muda di Indonesia berbelanja tanpa perencanaan yang jelas, yang dapat meningkatkan risiko finansial, terutama jika pengeluaran impulsif mengganggu kemampuan mereka untuk menabung.

Risiko Keuangan dan Perilaku Konsumtif

Risiko yang mungkin timbul antara lain adalah kurangnya dana darurat untuk kebutuhan mendesak. Ketika dana yang tersedia tidak mencukupi, individu mungkin lebih rentan untuk menggunakan utang. Selain itu, pengeluaran yang tidak terencana dapat menunda pencapaian tujuan finansial dan mengurangi kesempatan untuk mengembangkan dana melalui tabungan atau investasi.

Meski demikian, Sania menekankan bahwa tingginya penggunaan layanan keuangan digital tidak berarti anak muda memiliki perilaku konsumtif yang buruk. Survei dari Populis menunjukkan bahwa 74% anak muda, termasuk Gen Z dan milenial, mengalokasikan pengeluaran terbesar mereka untuk kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan pekerjaan.

“Dari data ini kita bisa menyimpulkan bahwa financial life Gen Z itu sebenarnya nggak boros. Mereka banyak mengeluarkannya untuk kebutuhan dasar yang memang benar-benar kita butuh,” jelasnya. Sania juga menyoroti bahwa teknologi menjadi salah satu faktor pembeda perilaku finansial anak muda saat ini dibandingkan generasi sebelumnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa 53% anak muda kini menggunakan e-wallet untuk pengelolaan keuangan, yang menunjukkan pergeseran dari transaksi tunai ke digital. “Uang anak muda saat ini ada di dalam smartphone,” ungkap Sania.

Di sisi lain, digitalisasi juga dimanfaatkan oleh anak muda untuk mengembangkan investasi. Sania mencatat bahwa investor ritel di pasar saham didominasi oleh kelompok usia muda, termasuk mereka yang berusia di bawah 30 tahun. Data menunjukkan bahwa investor ritel berasal dari berbagai lapisan pendapatan, dengan kelompok berpendapatan Rp10 juta-Rp100 juta per bulan menjadi salah satu yang terbesar.

Instrumen investasi yang tersedia pun beragam, mulai dari emas, properti, saham, hingga obligasi, masing-masing dengan karakteristik dan risiko yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan investor. Sania mencatat bahwa emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling dipercaya oleh masyarakat, terutama di kalangan usia 25-34 tahun.

Namun, dengan semakin banyaknya aktivitas finansial yang beralih ke ruang digital, kebutuhan untuk menjaga keamanan uang dan data pribadi juga meningkat. Sania mencatat terdapat 283 kasus serangan digital di Indonesia pada kuartal II 2026, termasuk pengancaman, doxing, dan peretasan.

“Ketika uang kita berpindah ke digital, maka risikonya juga ikut bertambah,” ujarnya. Oleh karena itu, Sania menilai peningkatan literasi keuangan menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Upaya ini perlu didukung oleh berbagai program edukasi dan literasi keuangan yang dilaksanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut Sania, pemahaman finansial di era digital saat ini tidak hanya sebatas mengetahui cara mengelola uang. “Melek finansial hari ini bukan hanya tahu bagaimana mengelola uang, tetapi juga tahu bagaimana menjaga uang dan data kita di ruang digital,” tutupnya.

Artikel Terkait