Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini melaporkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan pengaruh positif terhadap kondisi siswa saat bersekolah. Kepala BGN, Sudaryono, menyatakan bahwa persentase siswa yang pergi ke sekolah dalam keadaan lapar telah menurun dari 56 persen menjadi 16 persen. Meskipun demikian, banyak pihak yang mempertanyakan efek jangka panjang dari MBG terhadap status gizi anak setelah lebih dari setahun pelaksanaan program ini.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa pihaknya belum dapat memberikan kesimpulan definitif mengenai dampak program ini. Ia menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan berencana untuk melakukan survei mengenai status gizi anak usia sekolah untuk menilai efek dari MBG. Survei ini akan melibatkan pengukuran tinggi dan berat badan anak.
Rencana Survei Status Gizi Anak
Budi menjelaskan bahwa rencana survei tersebut telah dibahas dengan Sudaryono dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. "Nah kalau MBG, saya terakhir ketemu dengan Pak Sudar, dulu juga dengan Pak Mendikdasmen, kita sedang merencanakan untuk melakukan survei gizi," ungkap Budi saat menjawab pertanyaan mengenai status gizi anak.
Menurutnya, meskipun Kementerian Kesehatan sudah memiliki data survei gizi untuk anak balita, data tersebut belum cukup untuk menggambarkan dampak MBG, karena kelompok balita bukanlah kelompok penerima utama dari program ini. "Karena MBG kan banyaknya di anak usia sekolah. Nah sekarang kita akan, sudah setuju, akan melakukan survei gizi untuk anak usia sekolah. Sehingga kita bisa ketahui bagaimana perkembangan kecukupan gizinya," jelasnya.
Indikator Penilaian Status Gizi
Budi menambahkan bahwa pengukuran status gizi akan dilakukan dengan cara yang mirip dengan pemantauan pertumbuhan pada balita, yaitu dengan mengukur tinggi dan berat badan anak. "Kita nanti akan kayak bayi saja, kita ukur tinggi dan kita ukur berat badannya. Karena ada indikator-indikator penurunan gizinya," tuturnya.
Sebelumnya, BGN juga mengklaim bahwa program MBG telah berhasil meningkatkan pemenuhan kebutuhan pangan bagi anak-anak di sekolah. Berdasarkan data yang disampaikan, persentase siswa yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar menurun drastis setelah program ini dilaksanakan. Sudaryono berharap angka tersebut terus menurun hingga tidak ada lagi anak yang pergi ke sekolah dalam kondisi lapar.
Selain itu, BGN melaporkan adanya peningkatan konsumsi protein hewani di kalangan anak-anak, dari 26 persen menjadi 84 persen, serta peningkatan konsumsi buah dan sayur dari 65 persen menjadi 90 persen. Meskipun demikian, data ini hanya menunjukkan indikator pemenuhan pangan dan pola konsumsi, sementara dampak program terhadap perubahan status gizi anak masih perlu diteliti lebih lanjut melalui pengukuran langsung.
Survei yang direncanakan oleh Kementerian Kesehatan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan status gizi anak usia sekolah.