Nasional

Dampak Tak Terduga El Nino: Saat Pergeseran Iklim Memperlambat Rotasi Bumi

S
Safeera Anisa
20 October 2026 4 pembaca
Ilustrasi jam weker. Menurut data NOAA dan NASA, penguatan El Nino mengubah pola angin global hingga menambah panjang hari di Bumi. (Unsplash)
Ilustrasi jam weker. Menurut data NOAA dan NASA, penguatan El Nino mengubah pola angin global hingga menambah panjang hari di Bumi. (Unsplash)

Dilaporkan oleh Inten Esti Pratiwi di Kompas.com pada Selasa, 20 Oktober 2026, fenomena iklim El Nino terbukti tidak hanya mengacak-acak pola cuaca dan mendorong lonjakan harga pangan di berbagai penjuru dunia. Peristiwa alam yang berpusat di Samudra Pasifik ini rupanya juga sanggup memperlambat perputaran planet Bumi, yang pada akhirnya meregangkan durasi waktu dalam sehari menjadi sedikit lebih lama.

Skala Penambahan Waktu yang Tak Terlihat Mata

Meskipun perubahan durasi tersebut berlangsung sangat singkat, dinamika fenomena ini berhasil diukur secara presisi oleh para ilmuwan. "Perubahannya (durasi hari) hanya sekitar 1 milidetik pada saat puncak El Nino yang kuat," jelas Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) sebagaimana dikutip dari AccuWeather, Selasa (20/10/2026).

Penambahan waktu selisih satu milidetik—atau seperseribu detik—ini memang tak bakal dirasakan oleh aktivitas harian manusia. Namun, jika disandingkan dengan total 86.400 detik dalam kurun 24 jam sehari, pergeseran tersebut mencerminkan proporsi sebesar satu per 100 juta bagian.

Perubahan Pola Angin dan Analogi Penari Balet

Lantas, bagaimana fenomena iklim seperti El Nino sanggup memengaruhi kecepatan rotasi Bumi secara keseluruhan? Rahasia utamanya terletak pada redistribusi pergerakan angin global. Tatkala El Nino menguat di wilayah Pasifik tropis, tiupan angin pasat (trade winds) teridentifikasi melemah, sementara hembusan angin dari arah barat ke timur (west-to-east winds) di kawasan luar khatulistiwa justru kian mengencang.

Pergeseran pola angin ini secara langsung mendistribusikan ulang angular momentum atau energi rotasi yang terbagi antara planet Bumi dan atmosfernya. Agar sistem energi global tetap seimbang, kecepatan rotasi Bumi secara otomatis melambat secara perlahan. Prinsip fisika ini serupa dengan aksi seorang penari balet yang sedang memutar tubuhnya; ketika ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke luar, ritme putaran badannya akan melambat dengan sendirinya.

Efek Bertolak Belakang La Nina dan Faktor Alam Lain

Di sisi lain, saat kondisi Samudra Pasifik bergeser ke fase sebaliknya, efek yang ditimbulkan pun turut berbalik. "La Nina cenderung memberikan efek yang berlawanan," ungkap pihak NOAA. Pada periode La Nina, perputaran planet Bumi justru mengalami percepatan tipis, sehingga membuat rentang waktu satu hari menjadi sedikit lebih singkat dari biasanya.

Tidak hanya itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memaparkan bahwa pergeseran durasi hari juga dipicu oleh dinamika alam lainnya, mulai dari gejolak di lapisan atmosfer, lautan, simpanan air tanah, hingga lelehan lapisan es. "Variasi cuaca musiman dan harian kita dapat memengaruhi panjang hari sebesar beberapa milidetik dalam setahun," tambah NASA.

Ancaman Cuaca Ekstrem hingga Lonjakan Harga Pangan

Imbas dari penguatan El Nino yang sedang berlangsung tidak berhenti pada perputaran planet semata. Kawasan Pantai Pasifik kini dihadapkan pada erosi pesisir akibat laju gelombang Kelvin, sementara wilayah perbatasan tiga negara di Amerika Selatan diterjang banjir akibat curah hujan ekstrem. Selain itu, Amerika Serikat diproyeksikan bakal menghadapi cuaca ekstrem yang mengubah pola salju dan suhu dingin sepanjang musim dingin 2026–2027.

Penyimpangan curah hujan global ini pada akhirnya mengganggu hasil panen komoditas penting seperti kopi, cokelat, hingga bahan baku mi instan, yang berpotensi menaikkan tagihan belanja masyarakat di berbagai belahan dunia.

Artikel Terkait