Ekonomi

Danantara Adakan Pertemuan dengan Lembaga Pemeringkat dan Investor di Bangkok

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara Indonesia, mengadakan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan di Bangkok untuk membahas reformasi dan peran Dan...

I
Indriani Atmaja
14 October 2026 18 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang dikenal sebagai Danantara Indonesia, menyelenggarakan pertemuan roundtable dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan lembaga penyedia indeks global serta investor. Forum yang bertajuk "Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara" ini merupakan bagian dari agenda Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10).

Dalam pertemuan tersebut, hadir Menteri Keuangan Indonesia Suahasil Nazara, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono, dan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Parsi. Selain itu, terdapat juga perwakilan dari lembaga pemeringkat seperti Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, International Finance Corporation (IFC), Standard Chartered Bank, J.P. Morgan, The TCW Group, serta MSCI.

Tujuan Pertemuan dan Respons Investor

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa acara ini bertujuan untuk membahas reformasi di sektor keuangan serta peran Danantara Indonesia, khususnya dalam pasar modal. Pandu menjelaskan bahwa forum yang bersifat tertutup ini memberikan kesempatan bagi investor untuk memberikan masukan secara lebih terbuka. Diskusi berlangsung tidak hanya dalam format tanya jawab, tetapi juga mencakup berbagai pandangan dari lembaga pemeringkat, penyedia indeks, dan pengelola dana global.

Salah satu respons utama dari investor, menurut Pandu, adalah apresiasi terhadap koordinasi antar lembaga pemerintah dalam mendorong reformasi sektor keuangan. Mereka menilai bahwa keselarasan di antara empat institusi negara merupakan modal penting untuk memperkuat kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia. Pandu menambahkan bahwa fokus investor dalam diskusi kali ini tidak lagi terbatas pada pertanyaan teknis mengenai kebijakan fiskal, melainkan beralih kepada peluang investasi dan kolaborasi yang dapat dilakukan bersama Indonesia pada tahun mendatang.

Keterbukaan Komunikasi dan Diskusi Lanjutan

Pandu menyatakan, "Yang menarik, pertanyaannya malah bukan detail soal kenapa budget balance seperti ini atau pertanyaan-pertanyaan teknis. Justru pertanyaannya, apa yang bisa kita investasikan bersama tahun depan dan apa yang bisa kita lakukan." Ia juga menekankan bahwa keterbukaan komunikasi menjadi salah satu pesan penting dari pertemuan tersebut. Investor membutuhkan ruang untuk berdialog dengan pemerintah dan menyampaikan masukan langsung mengenai arah kebijakan ekonomi serta pasar keuangan Indonesia.

Selain pertemuan dengan pemangku kepentingan di sektor keuangan, Danantara juga mengadakan diskusi dengan investor global di bidang pendapatan tetap (fixed income). Pertemuan ini membahas sejumlah aspek teknis, termasuk arah kebijakan Indonesia hingga tahun 2027. Pandu menegaskan bahwa koordinasi ini menunjukkan adanya kerja sama yang lebih erat di antara empat institusi negara. Kesamaan pandangan dan kemampuan saling melengkapi dianggap penting agar Indonesia dapat menghadapi tantangan serta menjaga kepercayaan investor global.

Artikel Terkait