Ekonomi

Danantara Siap Serok Saham BUMN di Tengah Anjloknya IHSG

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, menyatakan kesiapan untuk menyerap saham BUMN seiring dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 11,...

E
Eira Orelia
18 October 2026 13 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang lebih dikenal sebagai Danantara Indonesia, mengungkapkan kesiapannya untuk menampung saham-saham dari emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di saat pasar modal mengalami penurunan yang tajam. Pada perdagangan saham hari Jumat, 16 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan sebesar 11,57% menjadi 5.185. Hanya terdapat 10 saham yang mengalami penguatan, sementara 775 saham lainnya mengalami penurunan, dan 10 saham tidak bergerak sama sekali.

Penurunan IHSG ini dipicu oleh pengumuman dari MSCI yang mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Jika hal ini terjadi, Indonesia akan kehilangan statusnya sebagai pasar negara berkembang dan akan setara dengan negara-negara yang pernah mengalami kebangkrutan seperti Argentina, Lebanon, Ukraina, dan Zimbabwe. Secara year to date (ytd), IHSG telah merosot 40,04% dan mengalami penurunan 19,50% dalam sebulan terakhir.

Peluang Investasi di Tengah Koreksi Pasar

Menyikapi situasi ini, CEO Danantara, Rosan Roeslani, berpendapat bahwa koreksi yang terjadi di pasar saham saat ini dapat menjadi peluang investasi bagi Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dipimpinnya. Ia menilai bahwa penurunan ini telah membuat valuasi emiten, termasuk emiten BUMN, menjadi lebih rendah.

Rosan menyatakan bahwa Danantara memandang investasi sebagai penempatan modal jangka panjang, bukan hanya sekadar mencari keuntungan dari transaksi jual beli saham dalam waktu singkat. "Kami meyakini, melihat, dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik. Sangat baik, saya tekankan," ungkapnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari yang sama.

Optimisme Terhadap Saham BUMN

Dia juga menegaskan bahwa saham-saham perbankan milik negara seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) masih dalam kondisi solid. "Tetapi valuasinya mungkin di bawah one time price-to-book value dan ini di bawah average dari median valuasi di peers industri-nya. Belum lagi di sektor infrastruktur, sektor telekomunikasi," tambah Rosan.

Lebih lanjut, Rosan menyatakan bahwa Danantara melihat koreksi pasar saham saat ini sebagai kesempatan untuk berinvestasi dalam jangka panjang. Ia optimis bahwa nilai perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI akan meningkat di masa depan.

Menurut Rosan, tekanan yang terjadi di pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal, rumor, dan sentimen non-fundamental, bukan oleh masalah fundamental perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu, ia meminta para pelaku pasar untuk fokus pada fundamental dan tetap optimis terhadap prospek pasar modal Indonesia.

Danantara, lanjutnya, siap memanfaatkan momen koreksi ini untuk berinvestasi pada saham-saham di Indonesia. "Oleh sebab itu, kami harus tetap melihat ini sebuah opportunity, optimis dan meyakini kami siap masuk karena melihat kembali lagi ini adalah momen yang sangat baik untuk kita berinvestasi ke saham-saham yang ada di Indonesia," tutup Rosan.

Artikel Terkait