Ekonomi

--- Danantara Siapkan Investasi Besar untuk Saham dan Obligasi Menjelang Pengumuman MSCI ---

--- Danantara berencana menginvestasikan hingga US$ 1 miliar untuk membeli saham dan obligasi hingga akhir tahun ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang ada. ---

E
Eko Prasetyo
12 October 2026 20 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Danantara berencana menginvestasikan hingga US$ 1 miliar untuk membeli saham dan obligasi hingga akhir tahun ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang ada. ---CONTENT---

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, mengumumkan rencana untuk mengeluarkan dana hingga US$ 1 miliar, yang setara dengan sekitar Rp 17,87 triliun, untuk membeli saham dan obligasi sebelum tahun ini berakhir. Keputusan ini akan didasarkan pada kondisi pasar serta penilaian terhadap valuasi aset yang ada.

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, menjelaskan bahwa Danantara telah melakukan investasi sekitar US$ 3 miliar dalam saham dan obligasi, baik di pasar domestik maupun internasional, sejak akhir tahun lalu. Rencana investasi tambahan ini muncul menjelang pengumuman terbaru dari penyedia indeks global MSCI yang dijadwalkan pada bulan November mendatang. Keputusan MSCI akan berpengaruh pada status pasar saham Indonesia, apakah tetap dalam kategori pasar berkembang (emerging market) atau beralih menjadi pasar perintis (frontier market).

Kekhawatiran Terhadap Status Pasar Saham Indonesia

Para pelaku pasar menunjukkan kekhawatiran terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia ke frontier market. Sebelumnya, MSCI telah memberikan peringatan pada bulan Januari bahwa Indonesia berisiko mengalami penurunan klasifikasi. Dengan adanya peluang bagi Danantara untuk berinvestasi di pasar Indonesia, tekanan dari MSCI diperkirakan tidak akan terlalu signifikan.

Meski begitu, Rani menegaskan bahwa kehadiran Danantara di pasar saham domestik bukan semata-mata untuk menstabilkan pasar, melainkan untuk mencari valuasi terbaik, mengingat Danantara merupakan badan pengelola investasi. Dia menyatakan bahwa Danantara berpotensi untuk berinvestasi di pasar saham domestik ketika terjadi tekanan, asalkan situasi tersebut menciptakan peluang investasi yang menguntungkan.

Strategi Investasi dan Fokus pada AI

“Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai tekanan tersebut hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara, kami mungkin akan masuk ke pasar,” ujar Rani. Dia menambahkan bahwa Danantara telah melakukan investasi secara bertahap sejak akhir tahun lalu, termasuk saat pasar saham mengalami penjualan besar-besaran setelah peringatan dari MSCI pada bulan Januari.

Apabila penurunan status Indonesia memicu aksi jual lebih lanjut pada bulan depan, Danantara akan mempertimbangkan peluang untuk membeli saham. Namun, keputusan tersebut tetap akan bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence). “Kami mungkin akan masuk. Namun, ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” jelasnya.

Rani juga menyatakan bahwa pembelian saham yang dilakukan oleh Danantara sebelumnya bukan bertujuan untuk menopang pasar, melainkan karena lembaga tersebut melihat adanya peluang dari valuasi aset. “Kami membeli karena melihat ada nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Justru bagus ketika orang lain tidak menyukai suatu aset, sementara kami melihat nilainya, karena kami bisa mendapatkannya dengan harga yang baik,” katanya.

Danantara diluncurkan pada awal tahun 2025 dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini memiliki mandat untuk mengelola aset negara senilai sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di 1.000 perusahaan, serta memanfaatkan dividen dari perusahaan-perusahaan tersebut untuk memaksimalkan imbal hasil investasi. Saat ini, Rani mengungkapkan bahwa portofolio investasi Danantara terdiri dari sekitar 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% dana lindung nilai. Sekitar seperempat dari portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.

Selain saham dan obligasi, Danantara juga mulai mempertimbangkan investasi di aset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Namun, Rani menekankan bahwa investasi di sektor tersebut dilakukan dengan hati-hati karena Danantara menilai bahwa peluang untuk memasuki sektor ini perlu diperhitungkan dengan cermat. “Kami tidak menganggap AI sebagai gelembung dan tidak berpikir gelembung itu akan pecah. Namun, kami ingin berhati-hati untuk masuk ke sektor ini karena kami relatif terlambat,” ungkapnya.

Menurut Rani, kekhawatiran yang muncul mengenai potensi gelembung investasi di sektor AI dapat membantu menjaga pasar tetap terkendali. Sebaliknya, ketika semua investor menganggap sektor tersebut sebagai peluang investasi yang menarik, risiko justru perlu diwaspadai.

Artikel Terkait