Riak kontroversi yang mengiringi penayangan The Assassin(s) sama sekali tak menyurutkan minat penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop. Film layar lebar ini terbukti amat tangguh mempertahankan tahtanya di puncak tangga film terlaris.
Pencapaian Gemilang dan Rekor Baru di Bioskop
Menurut pencatatan sistem komputer terpadu Korea Film Council per tanggal 13 Oktober pukul 07.00 pagi waktu setempat, total angka penonton film ini telah resmi menembus 3,0232 juta orang. Performa impresif ini makin terlihat pada periode 5 Oktober hingga 11 Oktober, yakni pekan ketiga penayangannya, yang sukses menyedot hingga 758.587 pengunjung hanya dalam tempo seminggu.
Catatan tersebut sekaligus memantapkan dominasi The Assassin(s) di posisi teratas box office mingguan secara beruntun selama tiga pekan. Menariknya, sejak hari pertama diputar di bioskop, posisi puncak film ini tak pernah sekalipun tergoyahkan. Angka 3 juta penonton berhasil direkuh hanya dalam kurun waktu 20 hari pasca rilis, mengantarkannya melesat ke peringkat kelima dalam jajaran film Korea terlaris sepanjang tahun 2026.
Rating Merangkak Naik dan Pujian Hangat Penonton
Fenomena menarik terjadi pada respon publik terhadap film ini. Alih-alih menurun, tingkat kepuasan serta rating dari para penonton justru memperlihatkan tren peningkatan memasuki minggu ketiga penayangan.
Memasuki pekan keempat di layar lebar, dorongan ulasan positif serta rekomendasi personal antarpenonton berhembus makin kuat. Banyak penikmat sinema yang sudah menyaksikan film ini melayangkan apresiasi tinggi, menilai karya ini sebagai "film yang dibuat dengan baik dengan keseimbangan sempurna antara skenario, akting, dan penyutradaraan.". Laju ulasan positif dari mulut ke mulut inilah yang diproyeksikan bakal menjaga napas kesuksesan komersial film ini dalam jangka panjang.
Kisah Sejarah Kelam dan Sentuhan Sinematik
Secara garis besar, jalan cerita The Assassin(s) mengangkat peristiwa bersejarah berupa perencanaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan kala itu, Park Chun Hee, pada tahun 1974. Peristiwa tragis tersebut berujung pada terbunuhnya sang Ibu Negara Yuk Young Soo.
Di balik layar, penggarapan proyek sinema ini dipimpin oleh sutradara Hur Jin Ho. Sang sutradara memadukan pengadeganan yang apik dengan performa akting yang begitu menjiwai dari aktor utama Yoo Hae Ji.
Polemik Distorsi Sejarah yang Malah Memicu Rasa Penasaran
Perjalanan The Assassin(s) di bioskop memang tak lepas dari gelombang protes, terutama dari kelompok konservatif yang mematik perdebatan hangat soal batasan kebebasan berkreasi. Poin utama yang menjadi sasaran tembak adalah rekaan adegan penembakan mendiang Ibu Negara Yuk Young Soo pada tahun 1974, yang tudingannya dianggap mencoreng nama baik almarhumah.
Dampak dari penolakan keras ini bahkan sampai membuat rangkaian acara pendukung film tersebut di BIFF tahun ini terpaksa dibatalkan. Kendati demikian, perselisihan terkait dugaan distorsi sejarah yang mencuat sejak pekan pertama penayangan justru memicu efek sebaliknya. Isu panas tersebut malah makin melecut rasa penasaran publik luas, mendorong banyak orang mendatangi bioskop demi membuktikan dan menilai secara langsung kebenaran atas tuduhan tersebut.