Pendidikan

Eksplorasi Pendidikan Dasar di Sleman: Mewujudkan Pendidikan yang Manusiawi

Jelajah Edukasi Dasar yang diselenggarakan di Sleman mengangkat tema pendidikan yang relevan dan memanusiakan, melibatkan berbagai pembahasan serta pengalaman dari para pendidik.

J
Jaya Abdi
10 September 2026 31 pembaca
Ilustrasi anak-anak tengah belajar membaca/magnific
Ilustrasi anak-anak tengah belajar membaca/magnific

SLEMAN—Ruang kelas tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai arena untuk mengeksplorasi pengalaman, pertanyaan, dan ide baru mengenai pendidikan. Konsep pendidikan yang berfokus pada kemanusiaan ini menjadi sorotan utama dalam acara Jelajah Edukasi Dasar yang diadakan oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Tahun ini, acara ini memasuki penyelenggaraan ketiga dengan tema "Impian dari Yogyakarta: Dari Ruang Kelas untuk Masa Depan Pendidikan". Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung di Kompleks Sekolah Eksperimental Mangunan, Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Sleman, pada hari Sabtu, 19 September 2026.

Carolus Borromeus Mulyatno, pengurus Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, menyatakan bahwa acara ini memberikan kesempatan bagi guru dan tenaga pendidikan untuk berbagi pengalaman serta hasil praktik pembelajaran yang mereka terapkan di sekolah. Menurut Mulyatno, pengalaman tersebut tidak hanya berhenti sebagai cerita, melainkan dikembangkan melalui penelitian tindakan (action research) untuk memahami berbagai isu pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. "Jelajah Edukasi Dasar dirancang sebagai pengalaman belajar. Peserta tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengamati, mengalami, berdialog, dan merefleksikan berbagai realitas pendidikan secara langsung," ujarnya.

Diskusi tentang Perlindungan Siswa dan Inovasi Pembelajaran

Berbagai isu pendidikan akan dibahas dalam acara Jelajah Edukasi Dasar tahun ini, mulai dari perlindungan siswa hingga strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Dalam sesi seminar, peserta akan mendapatkan informasi mengenai pendampingan siswa yang menjadi korban kekerasan melalui kolaborasi antara sekolah dan instansi pemerintah. Selain itu, ada materi mengenai pengenalan disiplin kepada anak, peningkatan keterampilan menulis, serta upaya meningkatkan minat makan anak melalui kegiatan taman gizi.

Materi lainnya juga akan membahas inovasi dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran kelas ekspresi, pengembangan model pembelajaran berbasis Cooperative Circuit Games (CCG), serta peningkatan pemahaman IPA dengan strategi pembelajaran yang menyenangkan. Selain itu, akan ada penekanan pada penguatan kemitraan antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi anak. Ragam tema ini menunjukkan bagaimana pengalaman di ruang kelas dapat digunakan untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak dan lingkungan sekolah.

Workshop dengan 18 Narasumber

Selain seminar, Jelajah Edukasi Dasar juga menyediakan sesi workshop yang melibatkan 18 narasumber. Berbagai materi telah disiapkan untuk memperkaya pengalaman dan keterampilan para guru serta tenaga pendidikan. Materi workshop mencakup integrasi kompetensi komunikatif dan literasi untuk siswa kelas IX, metode multisensori dalam pengenalan huruf untuk anak TK, strategi pengelolaan emosi anak, pembelajaran yang berbeda untuk setiap individu, penguatan motivasi belajar berbasis permainan, serta pemanfaatan data supervisi BPJS.

Rangkaian kegiatan ini juga akan dilengkapi dengan gelar wicara yang dihadiri oleh Mulyatno dan Bukik Setiawan dari Guru Belajar Foundation. Gelar wicara ini mengangkat tema "Impian dari Yogyakarta: Pendidikan yang Memanusiakan dan Relevansi Pemikiran Y.B. Mangunwijaya." Mulyatno, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menekankan bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks kehidupan masyarakat, lingkungan, perubahan zaman, serta tantangan yang dihadapi oleh generasi mendatang. Oleh karena itu, Jelajah Edukasi Dasar diarahkan untuk membantu peserta melihat isu pendidikan dengan cara yang lebih komprehensif, termasuk menghubungkan pengalaman pembelajaran di sekolah dengan perubahan dan kebutuhan generasi yang akan datang.

Melalui acara ini, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar berupaya mendorong peserta untuk memandang ruang kelas dengan perspektif yang lebih luas. Ruang kelas bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi juga sebagai tempat untuk mengembangkan pengalaman, pertanyaan, dan gagasan tentang pendidikan masa depan. Kegiatan ini dapat diikuti secara luring maupun daring, dengan harapan guru, tenaga pendidikan, dan peserta lainnya dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk bertukar pengalaman serta mengembangkan ide-ide tentang pendidikan yang lebih manusiawi dan relevan.

Artikel Terkait