Jakarta - Banyak orang yang mengaku pernah mengalami atau melihat sosok hantu. Fenomena paranormal ini sering menjadi topik perbincangan, di mana ada yang percaya dan ada pula yang skeptis. Namun, dari sudut pandang ilmiah, Profesor psikologi dari Wake Forest University, Melissa Maffeo, menjelaskan bahwa manusia sering kali menafsirkan pengalaman secara subjektif.
Menurutnya, otak manusia dapat menciptakan pengalaman yang tampak supernatural akibat salah tafsir terhadap lingkungan sekitar. Salah satu penyebab yang mungkin terjadi adalah adanya gangguan neurologis.
Studi Kasus dan Efek Aliran Listrik
Dalam sebuah studi kasus, ditemukan bahwa memberikan aliran listrik kecil pada bagian kepala dapat menghasilkan efek yang aneh. Prosedur ini biasanya dilakukan dalam konteks klinis. "Seorang pasien mengalami 'ilusi sosok bayangan' yang meniru gerakannya dan tampak mengganggu pergerakan tersebut. Beberapa individu juga melaporkan sensasi keluar dari tubuh atau pengalaman luar tubuh," ungkap Melissa.
Bukti dari eksperimen menunjukkan bahwa area otak yang dikenal sebagai junction temporoparietal mungkin memiliki peran penting dalam menciptakan sensasi keberadaan di dalam tubuh. Gangguan pada area ini dapat memicu perasaan seolah-olah seseorang terpisah dari tubuhnya. Para ilmuwan saraf masih berusaha memahami bagaimana otak membangun sensasi keberadaan tersebut.
Pengalaman Selama Tidur REM
Kesalahan dalam menafsirkan sensasi tubuh juga dapat terjadi saat seseorang tidur. Hal ini biasanya terjadi ketika otak mengurangi respons terhadap rangsangan eksternal. Selama fase tidur REM (rapid eye movement), yang merupakan fase di mana mimpi paling jelas terjadi, otak mengirimkan sinyal untuk mencegah pergerakan otot rangka.
Proses ini menyebabkan tubuh mengalami kelumpuhan sementara saat tidur REM, yang berfungsi sebagai mekanisme perlindungan neurologis. Jika tidak ada mekanisme ini, tubuh bisa bergerak sesuai dengan mimpi yang dialami. "Namun, beberapa orang terbangun saat masih dalam fase REM dan mendapati diri mereka tidak bisa bergerak. Pada saat yang sama, mereka dapat mengalami halusinasi yang sangat nyata, residual dari mimpi yang baru saja mereka alami," jelas Melissa.
Pengalaman ini biasanya berlangsung singkat. Namun, saat mengalami kelumpuhan tidur, sinyal saraf yang mengontrol pergerakan otot masih terhambat, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara informasi yang diterima otak dan apa yang dirasakan tubuh. "Kebanyakan orang merespons hilangnya informasi sensorik ini dengan rasa takut, yang membuat mereka lebih cenderung menganggap apa yang mereka lihat atau dengar dalam kondisi tersebut sebagai sesuatu yang nyata," pungkasnya.