Program Studi Penciptaan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (FSP ISI) Jogja kembali menggelar International Music Composition Festival (IMCF) 2026. Festival ini berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan merupakan penyelenggaraan ketiga dari festival komposisi musik internasional yang melibatkan 20 komponis dari lima negara, meningkat dari 18 komponis pada edisi sebelumnya.
Direktur IMCF 2026, Puput Pramuditya, menjelaskan bahwa festival ini berfungsi sebagai platform bagi komponis baik dari Indonesia maupun luar negeri untuk saling bertukar ide, berkolaborasi, dan menampilkan karya musik. IMCF pertama kali diadakan pada tahun 2022, diikuti oleh edisi kedua pada tahun 2024, dan kini kembali diadakan pada tahun 2026. "Tujuannya sebagai ruang temu bagi banyak komponis, baik di Indonesia maupun tingkat dunia untuk berkolaborasi dan berkreasi," ungkap Puput.
Rangkaian Acara dan Konser
Pada tahun ini, festival ini melibatkan komponis dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Belanda, Australia, dan Indonesia. Karya-karya mereka dijadwalkan untuk ditampilkan dalam konser yang berlangsung pada malam hari tanggal 15 dan 16 Oktober 2026. Selain konser, IMCF 2026 juga menyelenggarakan berbagai agenda akademik dan diskusi, termasuk lokakarya, masterclass, dan bedah karya, memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya menikmati pertunjukan tetapi juga memahami proses penciptaan musik.
"Selain konser, acara ini juga diisi dengan lokakarya, masterclass, dan bedah karya," tambahnya.
Tematik Vestigium Sonorum
IMCF 2026 mengangkat tema besar Vestigium Sonorum, yang berarti jejak bunyi, dengan kecerdasan artistik sebagai fokus dalam penciptaan karya musik. Tema ini mendorong para komponis untuk menerjemahkan kecerdasan artistik ke dalam gagasan dan bentuk musikal. Karya yang ditampilkan sebagian besar merupakan musik kontemporer dengan beragam pendekatan dan gaya dalam penciptaan.
Keberagaman karya ini bertujuan untuk menyatukan berbagai perspektif musikal dalam satu festival. Setiap komponis memiliki cara unik dalam mengolah gagasan menjadi komposisi musik. Salah satu inovasi dalam IMCF 2026 adalah agenda bedah karya dosen, di mana karya dosen tidak hanya ditampilkan tetapi juga dibahas dari sudut pandang proses kreatif, temuan artistik, dan pengembangan gagasan menjadi komposisi.
"Jadi karya-karya dosen yang akan ditampilkan itu akan dibedah bagaimana proses kreatifnya, bagaimana temuan-temuannya, serta bagaimana menerjemahkan ide penciptaan ke dalam wujud musik," jelas Puput.
Keterlibatan Dosen dan Mahasiswa
Selain karya dari komponis internasional, IMCF 2026 juga melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi Penciptaan Musik. Karya mahasiswa dikumpulkan dan melalui proses kurasi internal sebelum dipilih untuk ditampilkan dalam festival. Puput menyatakan bahwa sekitar 90% dosen Program Studi Penciptaan Musik berpartisipasi dengan mengeluarkan karya dalam penyelenggaraan tahun ini. Keterlibatan ini menunjukkan ruang partisipasi bagi sivitas akademika untuk mempresentasikan hasil penciptaan musik.
Puput berharap rangkaian kegiatan IMCF dapat memperkuat hubungan antara praktik penciptaan musik dan budaya akademik. Festival ini juga diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk memahami berbagai pendekatan dalam perkembangan musik kontemporer. "Harapan kami IMCF dapat selalu menjadi ruang perjumpaan gagasan, ilmu pengetahuan, dan kreativitas melalui karya musik dalam lingkup akademik yang akan menghasilkan berbagai perspektif musikal yang saling melengkapi," tutupnya.