Hiburan

Festival Musik Timeless Project Live Rayakan Keberagaman Musik Bandung

Timeless Project Live Preanger Edition akan berlangsung di Laswi Heritage, Bandung pada 19 September 2026, menampilkan berbagai musisi dari berbagai genre, termasuk Doel Sumbang dan The Changcuters.

E
Eira Orelia
14 September 2026 38 pembaca
suara.com Sumber: suara.com
Dari The Changcuters hingga Doel Sumbang, Timeless Project Live Rayakan Warna Musik Bandung (Dok. Istimewa)
Dari The Changcuters hingga Doel Sumbang, Timeless Project Live Rayakan Warna Musik Bandung (Dok. Istimewa)

Festival musik yang bertajuk Timeless Project Live Preanger Edition dijadwalkan berlangsung di Laswi Heritage, Bandung, pada tanggal 19 September 2026. Acara ini akan menampilkan berbagai musisi dari berbagai genre yang berasal dari Jawa Barat, di antaranya Doel Sumbang, Mocca, dan The Changcuters. Promotor acara telah merancang empat fase pengalaman untuk pengunjung, yang bertujuan untuk merayakan nostalgia musik serta budaya pop dari era 2000-an.

Bandung kembali menjadi tempat berkumpul bagi para penggemar musik dari berbagai generasi. Timeless Project Live Preanger Edition bukan sekadar festival musik biasa, melainkan sebuah konsep yang menggabungkan musik, budaya pop, nostalgia, dan pengalaman interaktif dalam satu perayaan. Festival ini akan menghadirkan sejumlah nama yang memiliki kisah yang kuat dalam perjalanan musik di Jawa Barat, antara lain The Changcuters, Mocca, The Milo, Bottlesmoker, The Panturas, Teenage Death Star, La Luna, White Chorus, Karaokeset, Sarasvati, dan Pure Saturday. Selain itu, akan ada penampilan khusus dari Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) feat. Vicky Mono, serta Ardan Nightmare Side dan Doel Sumbang.

Keberagaman Musik dalam Satu Panggung

Kekuatan dari Timeless Project Live terletak pada keberagaman yang ditawarkan. Festival ini tidak terikat pada satu genre atau karakter musik tertentu. Berbagai aliran musik seperti rock, pop, shoegaze, surf rock, elektronik, hingga pop folk Sunda akan disajikan dalam satu panggung, menciptakan perjalanan musik yang merepresentasikan berbagai fase kehidupan generasi 2000-an. “Bandung punya sejarah dan karakter musik yang sangat kuat. Karena itu, ketika kami menyiapkan Preanger Edition, kami ingin lineup-nya juga merefleksikan keberagaman cerita dan pengalaman musik yang dimiliki kota ini,” jelas Rijal Asikin, perwakilan dari Resonine yang menjadi promotor acara tersebut.

Rijal menambahkan bahwa setiap musisi memiliki tempat tersendiri dalam ingatan audiens. Ada yang menemani masa sekolah, kuliah, awal bekerja, jatuh cinta, hingga berbagai fase kehidupan lainnya. Oleh karena itu, nostalgia yang dihadirkan dalam festival ini tidak hanya mengajak penonton untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk melihat kembali perjalanan tersebut dari perspektif saat ini.

Pengalaman Interaktif dan Nostalgia

Konsep festival ini semakin kuat dengan kehadiran The Changcuters, Teenage Death Star, UTBBYS, dan Pure Saturday yang membawa nuansa rock, sementara Mocca dan La Luna mewakili warna pop yang sangat dekat dengan generasi 2000-an. The Milo menampilkan karakter shoegaze khas Bandung, The Panturas menyuguhkan surf rock yang lebih modern, sedangkan Bottlesmoker dan White Chorus memperkaya panggung dengan eksplorasi musik elektronik. Sarasvati memberikan sentuhan yang lebih personal dan emosional, sementara Doel Sumbang menghubungkan penonton dengan akar pop folk Sunda yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Jawa Barat. Keunikan lain juga datang dari Ardan Nightmare Side, yang merupakan program radio populer di kalangan anak muda Bandung pada era 2000-an, yang akan dihadirkan dalam format live sebagai bagian dari pengalaman budaya pop.

“Kami tidak ingin menciptakan pengalaman yang hanya berfokus pada satu era atau jenis musik. Kami ingin merayakan keberagaman soundtrack yang membentuk perjalanan tersebut,” ungkap Rijal. Pengalaman bagi pengunjung dirancang dalam empat fase: remember, relive, celebrate, dan recharge. Sejak kedatangan, audiens akan dibawa ke suasana era 2000-an melalui instalasi visual, tempat foto, hingga landmark bertema. Fase relive menawarkan aktivitas interaktif seperti pengalaman radio off-air, marketplace bertema 2000-an, karaoke, dan berbagai area interaksi lainnya. Puncak acara akan berlangsung pada fase celebrate, ketika seluruh warna musik tersebut berkumpul di panggung utama. Namun, Timeless Project Live tidak berakhir setelah pertunjukan selesai. Fase recharge menjadi penutup yang menyampaikan pesan bahwa festival seharusnya memberikan lebih dari sekadar foto dan video bagi penonton.

“Pada akhirnya, yang kami harapkan adalah audiens pulang bukan hanya dengan dokumentasi acara, tetapi dengan energi baru dan apresiasi terhadap perjalanan yang sudah mereka lalui,” tutup Rijal. Dengan konsep yang diusung, Timeless Project Live Preanger Edition menawarkan pengalaman yang lebih mendalam daripada sekadar konser, menjadi ruang untuk mengenang, menghidupkan kembali, merayakan, dan mengisi ulang energi melalui musik yang pernah menjadi soundtrack perjalanan hidup.

Artikel Terkait