Ekonomi

Fitch Ratings Tunjukkan Peringkat dan Prospek Telkom di Sektor Telekomunikasi

Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) di level BBB dengan outlook negatif, sambil meningkatkan Standalone Credit Profile (SCP) menjadi 'a'.

E
Eko Prasetyo
05 October 2026 27 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Fitch Ratings telah mengonfirmasi peringkat kredit jangka panjang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), atau yang lebih dikenal sebagai Telkom, di level BBB untuk utang dalam mata uang asing maupun rupiah. Outlook untuk Telkom juga tetap negatif, sejalan dengan peringkat Indonesia yang berada di level BBB. Namun, Fitch menaikkan Standalone Credit Profile (SCP) Telkom menjadi 'a' dari sebelumnya 'a-'.

Fitch menilai Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi utama di Indonesia dengan posisi pasar yang stabil. Profil kredit ini didukung oleh rasio EBITDA net leverage yang sangat rendah, sekitar 0,4 kali, jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis. Peningkatan SCP mencerminkan ekspektasi Fitch bahwa Telkom dapat mengelola investasi jaringan 5G sambil mempertahankan tingkat leverage sesuai dengan SCP level 'a'. Meskipun SCP Telkom meningkat, hal ini tidak mempengaruhi peringkat IDR perusahaan, karena Fitch membatasi peringkat Telkom pada level yang sama dengan peringkat pemerintah Indonesia.

Kepemilikan dan Pengaruh Pemerintah

Fitch Ratings menilai bahwa SCP Telkom lebih kuat dibandingkan dengan peringkat kredit Indonesia. Namun, peringkat kredit Telkom tetap dibatasi pada level sovereign karena kepemilikan mayoritas pemerintah dan tidak adanya pembatasan akses pemerintah terhadap aset TLKM. Pemerintah Indonesia memiliki 52% saham Telkom dan merupakan satu-satunya pemegang saham khusus Seri A Dwiwarna, yang memberikan hak veto kepada pemerintah atas keputusan penting, termasuk pengangkatan dan pemberhentian dewan komisaris serta direksi, penerbitan saham baru, dan perubahan anggaran dasar perusahaan.

Posisi Pasar dan Proyeksi Pertumbuhan

Telkom terus mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di segmen business-to-consumer (B2C), yang menyumbang 72% dari total pendapatan perusahaan pada tahun 2025. Telkom menguasai sekitar 48% pangsa pasar seluler dan 67% pasar broadband tetap. Fitch memperkirakan pasar telekomunikasi Indonesia akan terus tumbuh, terutama di segmen seluler, didorong oleh konsolidasi industri menjadi tiga pemain utama yang menciptakan persaingan lebih rasional, fokus pada pelanggan bernilai tinggi, dan peningkatan konsumsi data.

“Kami memproyeksikan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) akan terus meningkat, sementara pertumbuhan pelanggan diperkirakan akan moderat,” tulis Fitch Ratings. Selain itu, Telkom diharapkan tetap mempertahankan keunggulan di bisnis broadband tetap dengan lebih dari 9 juta pelanggan, meskipun pertumbuhan segmen ini mungkin melambat akibat persaingan yang ketat dan adopsi layanan konvergensi yang mulai melambat.

Fitch memperkirakan Telkom dapat menjaga rasio utang bersih terhadap EBITDA di sekitar 0,4 kali sepanjang tahun 2026 hingga 2029, yang jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan telekomunikasi sejenis. Profil utang Telkom yang stabil dan pertumbuhan EBITDA yang diproyeksikan semakin kuat, terutama mulai tahun 2028 saat program reorganisasi perusahaan mulai memberikan dampak. Leverage bersih terhadap EBITDA diperkirakan tetap berada di kisaran 0,4–0,5 kali meskipun Telkom meningkatkan belanja modal pada tahun 2027–2028 untuk memodernisasi jaringan.

Dari aspek spektrum, biaya yang dikeluarkan Telkom dalam lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz terbaru lebih rendah dari perkiraan Fitch, karena biaya di muka dalam lelang tersebut setara dengan biaya tahunan, berbeda dengan lelang spektrum sebelumnya. Dalam lelang tersebut, Telkom berhasil mendapatkan 2x10 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2,6 GHz, yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemilik portofolio spektrum terbesar di Indonesia.

Fitch juga memperhitungkan kepemilikan minoritas Telkom dalam sejumlah aset utama, dengan mengonsolidasikan secara proporsional 70% laporan keuangan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan 72% laporan keuangan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) untuk mencerminkan dampak kepemilikan minoritas. “Untuk Telkomsel, kami meyakini Singapore Telecommunications, yang memiliki 30% saham, tetap memiliki pengaruh strategis dan operasional atas perusahaan Indonesia tersebut,” tulis Fitch.

Fitch Ratings menilai Telkom menguasai hampir separuh pangsa pelanggan di segmen seluler dan memiliki posisi dominan di bisnis fixed broadband melalui Telkomsel. Selain itu, Telkom memiliki diversifikasi bisnis dan kepemilikan infrastruktur yang lebih kuat dibandingkan dengan pemain domestik lainnya, termasuk menara telekomunikasi, jaringan serat optik, dan kabel bawah laut.

Dibandingkan dengan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk dan PT Indosat Tbk, Telkom mencatat margin EBITDA yang lebih tinggi, sekitar 45%, serta rasio utang bersih terhadap EBITDA yang jauh lebih rendah di level 0,4 kali. Sementara itu, XLSMART memiliki margin EBITDA terendah di antara perusahaan telekomunikasi domestik tersebut, di bawah 30%, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA mencapai 2,1 kali pada tahun 2025. Indosat mencatat margin EBITDA sekitar 30% dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sekitar 1 kali.

Fitch juga membandingkan Telkom dengan perusahaan telekomunikasi Korea Selatan, KT Corporation. Menurut Fitch, Korea Selatan memiliki pasar telekomunikasi yang lebih maju secara teknologi, terutama dalam hal ketersediaan layanan konektivitas berkecepatan tinggi. Layanan premium dan tingkat pendapatan masyarakat yang lebih tinggi di Korea Selatan mendukung average revenue per user (ARPU) yang lebih tinggi. Namun, pasar telekomunikasi Korea Selatan sudah berada pada tahap yang lebih matang, sehingga ruang pertumbuhannya lebih terbatas dibandingkan dengan Indonesia.

Dari sisi leverage, Telkom memiliki posisi yang lebih kuat dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sekitar 0,4 kali, dibandingkan dengan KT Corporation yang berada di sekitar 1 kali. Dalam skenario pemeringkatannya, Fitch memperkirakan pendapatan Telkom tumbuh sekitar 2% pada tahun 2026 dan 2027, dengan margin EBITDA sebesar 44% pada kedua tahun tersebut. Belanja modal atau capital expenditure (capex) diperkirakan mencapai 19% dari pendapatan pada tahun 2026 dan meningkat menjadi 23% pada tahun 2027.

Fitch juga memperkirakan Telkom akan membagikan dividen sekitar Rp 22 triliun pada tahun 2026 dan Rp 23 triliun pada tahun 2027, serta melakukan buyback saham sekitar Rp 1,8 triliun pada tahun 2026. Pada Juni 2026, Telkom diperkirakan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 54,5 triliun serta fasilitas likuiditas yang belum ditarik sebesar Rp 4 triliun. Hal ini dibandingkan dengan utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan sebesar sekitar Rp 30 triliun dan profil jatuh tempo utang yang tersebar merata setelahnya.

“Kami memperkirakan perusahaan akan tetap memiliki akses keuangan yang baik ke pasar modal serta bank-bank lokal dan internasional, yang akan mendukung upaya refinansialisasinya,” tulis Fitch.

Artikel Terkait