Nasional

Gempuran Udara hingga Teknologi Thermal: Strategi All-Out Pemerintah Padamkan Karhutla Kalteng

S
Safeera Anisa
14 October 2026 56 pembaca
Sejumlah relawan dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) membantu proses pemadaman karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (TANGKAPAN LAYAR VIDEO)
Sejumlah relawan dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) membantu proses pemadaman karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (TANGKAPAN LAYAR VIDEO)

JAKARTA — Penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah terus dipacu dengan mengerahkan gabungan strategi darat maupun udara. Langkah intensif ini ditempuh agar dampaknya tidak kian meluas selagi menanti datangnya musim penghujan.

Menyemai Awan Tanpa Menunggu Hujan Alami

Penetapan taktik di lapangan tidak bergantung semata pada faktor alam. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni menegaskan bahwa jajarannya bergerak aktif menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memicu terbentuknya hujan buatan.

Langkah ini diambil mengingat perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan alami di kawasan Kalimantan Tengah diprediksi baru akan turun pada awal November.

“Seperti yang diprediksi oleh BMKG, hujan alami ini baru akan ada di Kalimantan Tengah ini mungkin nanti di awal November. Sementara operasi modifikasi cuaca terus kita lakukan, kita tidak pernah berpangku tangan,” ujar Raja di TN Sebangau, Kalteng, Selasa (13/10/2026).

Dalam praktiknya, proses penyemaian dilakukan setiap kali terdeteksi kemunculan potensi awan hujan. Langkah pelembaban kawasan ini disebar melintasi berbagai titik, tanpa terbatas hanya pada daerah yang sedang mengalami karhutla.

“OMC dilakukan di mana ada bibit awan ya. Apakah itu kabupaten yang ada karhutla atau tidak, tetap kita semai untuk melakukan pelembaban. Kalau syukur-syukur pemadaman dengan curah hujan yang tinggi,” jelasnya.

Sinergi Darat-Udara dan Terobosan 'Thermal Drone'

Selain rekayasa cuaca, penanggulangan dari udara diperkuat oleh armada helikopter penumpah air (water bombing). Walaupun operasional udara ini kerap menemui hambatan visibilitas akibat asap tebal, pemadaman tetap dimaksimalkan saat celah cuaca memungkinkan.

Di jalur darat, pergerakan personel dan pengerahan peralatan pemadam ditingkatkan secara signifikan. Kapolda Kalteng mendorong penambahan pasukan darat beserta kelengkapan pendukung, sedangkan Pangdam setempat turun langsung memimpin operasi pemadaman di area terdampak.

Untuk memperpertajam arah pemadaman, tim di lapangan memanfaatkan pemantauan udara berbasis thermal drone. Penggunaan teknologi ini berfungsi mengidentifikasi titik pergerakan kepala api secara presisi guna menentukan strategi pembasahan yang paling efektif.

Terbuka Terhadap Kritik demi Optimalisasi Penanganan

Di tengah perjuangan menaklukan titik api di lapangan, Menhut Raja Antoni menyampaikan apresiasi atas beragam saran, masukan, maupun evaluasi publik terhadap upaya penanganan karhutla.

"Jadi sekali lagi terima kasih ya kritik saran, evaluasi, bahkan kritik pedas sekalipun ya. Kami dengar. Itu menjadi motivasi kami untuk bergerak lebih serius lagi untuk mengatasi ini,” ujar Menhut.

Artikel Terkait