Masuknya Haji Isam, yang dikenal sebagai pengusaha kaya dari Kalimantan, akan mengubah struktur pemegang saham di PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Melalui perusahaan yang dikelolanya, PT Jhonlin Baratama, Haji Isam akan membeli 30% atau setara dengan 10 miliar lembar saham dari perusahaan tambang batu bara yang dimiliki Low Tuck Kwong, orang terkaya di Indonesia.
Transaksi ini telah ditandatangani dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada 16 September 2026, antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebagai penjual, serta PT Jhonlin Baratama sebagai pembeli. Dalam perjanjian tersebut, PT Jhonlin Baratama akan memperoleh 10.000.000.500 saham BYAN, yang merupakan 30% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah transaksi selesai.
Posisi Low Tuck Kwong sebagai Pengendali
Meskipun Haji Isam akan memiliki saham yang signifikan, manajemen BYAN menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui nilai transaksi atau kapan proses ini akan selesai. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan, manajemen mencatat, “Sampai dengan tanggal surat ini, kami belum memperoleh informasi tambahan dari Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low sehubungan dengan status pemenuhan masing-masing kondisi pendahuluan.”
Meski demikian, manajemen BYAN menegaskan bahwa hingga saat ini, Low Tuck Kwong tetap menjadi pemegang saham utama dan pengendali perusahaan. Setelah transaksi selesai, Low Tuck Kwong diperkirakan akan memiliki 6.951.170.541 saham, yang setara dengan sekitar 20,853% dari total saham BYAN. Sementara itu, Elaine Low akan memiliki 3.799.584.529 saham, atau sekitar 11,399%.
Rencana Direksi dan Dewan Komisaris
Manajemen BYAN juga mengonfirmasi bahwa tidak ada perubahan dalam pengendalian perusahaan setelah transaksi ini. Pemegang saham lainnya, berdasarkan data per 31 Agustus, termasuk PT Sumber Suryadana Prima dengan 10% dan publik dengan 21,3%. Beberapa pemegang saham kecil lainnya adalah Lim Chai Hock dengan 3,26% dan Jenny Quantero dengan 2,8%.
Terkait kemungkinan perubahan dalam susunan direksi dan dewan komisaris, manajemen menyatakan bahwa mereka belum memiliki rencana untuk melakukan perubahan tersebut. Mereka juga belum menerima permintaan dari pemegang saham utama untuk mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengenai perubahan tersebut.
Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan mengenai strategi perusahaan ke depan, termasuk rencana peningkatan produksi dan kapasitas operasional setelah memperoleh persetujuan RKAB, serta potensi sinergi dengan PT Jhonlin Baratama. Namun, manajemen BYAN menegaskan bahwa mereka belum dapat memberikan komentar lebih lanjut karena transaksi belum selesai. “Pembahasan dan negosiasi transaksi dilakukan oleh para penjual dan tidak melibatkan Perseroan, Direksi dan Komisaris Perseroan selain Dato' Low Tuck Kwong,” jelas manajemen BYAN.