Nasional

Hangat Bumi Kamojang: Ketika Panas Geotermal Membakar Semangat Petani Menuju Kemandirian Pangan

S
Safeera Anisa
24 September 2026 38 pembaca
Kegiatan HAREPAN?Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert, hasil nyata program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah Pertamina di lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Dok. Pertamina)
Kegiatan HAREPAN?Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert, hasil nyata program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah Pertamina di lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Dok. Pertamina)

Tantangan Cuaca dan Impit Harga Pupuk di Pegunungan

Kehidupan para pengolah tanah di lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar), selama ini selalu berkelindan dengan kesejukan iklim lokal. Namun, di balik udara segar serta tingginya curah hujan dan kelembapan udara tersebut, tersimpan pergulatan berat bagi para petani setempat. Dalam kondisi alami, proses pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu hingga dua pekan penuh hanya untuk tahap pengeringan. Beban ini kian menghimpit tatkala pasokan pupuk bersubsidi semakin terbatas, sementara harga pupuk kimia terus membumbung tinggi di pasaran.

Keajaiban Uap Bumi Memangkas Waktu

Menolak menyerah pada keadaan, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bergandengan tangan dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, anak perusahaan Pertamina. Lewat inisiatif Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah, mereka menciptakan formulasi pupuk organik bernama GeO-Fert yang memanfaatkan uap panas bumi (excess steam). Dengan memanfaatkan dorongan suhu geothermal berkisar 60–70 derajat celsius, durasi pengeringan yang mulanya menelan waktu 14 hari berhasil dipangkas secara fantastis menjadi sekitar 12 jam saja. Hingga tahun 2026, kolaborasi cerdas ini sanggup mengolah 600 ton limbah organik menjadi 300 ton pupuk GeO-Fert berkualitas. Manfaatnya pun dirasakan langsung oleh 950 petani yang menggarap sekitar 15 hektar (ha) lahan pertanian.

Senyum Merona di Balik Panen Melimpah

Bagi warga Kamojang, keberhasilan inovasi ini tidak diukur dari tumpukan karung pupuk di dalam gudang, melainkan dari hijau suburnya daun dan lebatnya buah di ladang. Pembuktian itu mewujud nyata dalam perhelatan HAREPAN–Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert. Lahan-lahan yang dipupuk dengan racikan berbasis panas bumi ini sukses memetik hasil panen melimpah, mencakup 15 ton kentang serta 40 ton kol. Tak hanya itu, penggunaan GeO-Fert berhasil menekan biaya operasional para petani dengan total penghematan mencapai kurang lebih Rp 82 juta.

Local Hero KTH Cikondang Hendro Gunawan menegaskan rasa syukurnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (24/9/2026):

“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya bisa membuat pupuk sendiri, tetapi bagaimana pupuk ini kembali ke tanah dan menghasilkan panen. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah, sekarang bisa memberikan manfaat untuk pertanian dan petani,”

Menyuling Energi Bersih Menjadi Ketahanan Pangan

Perayaan Hari Tani Nasional menjadi pengingat berharga akan peran vital para petani sekaligus momentum memperkuat kemandirian mereka. Vice President (VP) Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan pandangannya terkait kontribusi energi terbarukan ini:

“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat. Di Kamojang, panas bumi ikut membantu petani mengolah limbah menjadi pupuk, merawat lahan hingga menghasilkan pangan,”

Di Kamojang, pemanfaatan uap bumi tidak berhenti pada pembuatan pupuk semata, tetapi juga meluas hingga mendukung pengeringan biji kopi dan berbagai aktivitas bercocok tanam warga. Rantai pemanfaatan terpadu ini membentuk ekosistem berkelanjutan yang memberi nilai tambah nyata bagi kelestarian alam dan kesejahteraan petani.

Mengalirkan Inspirasi Kamojang ke Seluruh Nusantara

Keberhasilan di lereng Kamojang kini menjadi pijakan bagi Pertamina untuk memperluas manfaat energi bersih ke pelosok tanah air. Sampai dengan tahun 2026, Pertamina telah mengoperasikan 269 program DEB di berbagai wilayah Indonesia, di mana 166 program di antaranya secara khusus difokuskan untuk menyokong sektor ketahanan pangan. Program ini telah menjangkau sekitar 2.091 ha lahan pertanian warga dengan akumulasi hasil panen menembus 21.357 ton.

Pada panggung Hari Tani Nasional 2026, pengalaman manis GeO-Fert membuktikan bahwa kemandirian pangan sanggup bertunas dari kearifan dan potensi lokal di sekeliling masyarakat. Dari panas bumi terpancar energi yang melahirkan pupuk; dari pupuk tumbuh tanaman subur; dan dari panen yang melimpah, terpancar masa depan petani Indonesia yang lebih sejahtera dan mandiri.

Artikel Terkait