Kesehatan

Hari Penglihatan Sedunia: Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan

Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya perhatian terhadap gangguan penglihatan pada anak dan lansia dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia. Deteksi dini dapat membantu mencegah masala...

J
Jaya Abdi
14 October 2026 18 pembaca
Foto: Kelainan refraksi pada anak, katarak pada lansia jadi masalah penglihatan terbanyak (Adelia Magda/detikHealth)
Foto: Kelainan refraksi pada anak, katarak pada lansia jadi masalah penglihatan terbanyak (Adelia Magda/detikHealth)

Jakarta - Apakah anak Anda sering menyipitkan mata saat melihat papan tulis? Atau orang tua Anda mulai kesulitan melihat dengan jelas? Gangguan penglihatan dapat terjadi pada berbagai usia, dan masalah yang perlu diwaspadai pun berbeda-beda. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti dua kelompok utama dalam penanganan gangguan penglihatan, yaitu anak-anak dan remaja, serta orang dewasa dan lansia. Pada anak-anak, kelainan refraksi menjadi perhatian utama, sementara pada kelompok lansia, katarak menjadi masalah yang signifikan karena dapat menyebabkan kebutaan.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menguraikan perbedaan masalah ini dalam media briefing yang diadakan untuk memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2026. "Jadi, masalah kita tuh ada dua ya, masalah kebutaan pada lansia serta masalah pada anak dan remaja," ungkap Nadia.

Kelainan Refraksi pada Anak

Kelainan refraksi adalah gangguan yang menyebabkan penglihatan tidak terfokus dengan baik, yang mencakup rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme atau mata silinder. Beberapa kelainan refraksi dapat diperbaiki dengan penggunaan kacamata sesuai hasil pemeriksaan. Data CKG sekolah dari 1 Januari hingga 2 September 2026 menunjukkan bahwa sebanyak 288.408 peserta, atau 3,12 persen dari total 9.241.377 peserta yang menjalani pemeriksaan, mengalami gangguan penglihatan dengan hasil di bawah 6/9. Temuan ini menekankan pentingnya pemeriksaan mata bagi anak-anak usia sekolah. Namun, hasil skrining tidak selalu menjamin identifikasi jenis gangguan yang dialami setiap anak, sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.

Dalam sambutannya, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa anak-anak sering kali tidak menyadari atau tidak dapat mengungkapkan gangguan penglihatan yang mereka alami. "Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu," kata Andi. Ia juga menekankan pentingnya orang tua dan guru untuk memperhatikan perubahan perilaku anak, seperti sering menyipitkan mata, mendekatkan buku atau layar, dan kesulitan melihat tulisan di papan. Menurut Andi, deteksi dini sangat penting agar gangguan penglihatan tidak menghalangi kesempatan anak untuk belajar dan berkembang.

Katarak pada Dewasa dan Lansia

Di sisi lain, dr Nadia juga menyoroti katarak sebagai salah satu masalah utama yang dihadapi oleh orang dewasa dan lansia. "Utamanya penyakitnya katarak kalau pada orang tua," jelas Nadia. Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh, sehingga penglihatan menjadi kabur. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan pemeriksaan untuk menentukan penanganan yang tepat. Data CKG menunjukkan bahwa dari 1 Januari hingga 2 September 2026, sebanyak 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas dicurigai mengalami katarak, yang setara dengan 2,59 persen dari total 13.618.207 peserta yang menjalani skrining.

Temuan ini masih berupa hasil skrining dan bukan diagnosis akhir. Peserta yang dicurigai mengalami katarak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi mata mereka. Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa proporsi katarak sebagai penyebab disabilitas secara nasional mencapai 19,2%. Angka ini bervariasi antarprovinsi, dan menggambarkan pentingnya penanganan katarak untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat berujung pada disabilitas yang menghambat aktivitas sehari-hari.

Pentingnya Tindak Lanjut Setelah Skrining

Menemukan gangguan penglihatan sejak dini adalah langkah awal yang penting. Pasien yang terdeteksi mengalami gangguan tetap perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai kebutuhan mereka. Andi menegaskan bahwa skrining di layanan kesehatan primer dapat membantu mendeteksi berbagai gangguan mata. "Di tingkat pelayanan kesehatan primer, skrining mata dapat membantu menemukan gangguan tajam penglihatan atau visus dan kelainan refraksi, serta mengenali kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati, maupun gangguan penglihatan berat yang memerlukan pemeriksaan dan tindak lanjut lebih lanjut dan tepat," ujar Andi.

Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan setelah skrining. "Namun perlu kita tekankan bahwa skrining bukanlah tujuan akhir. Yang kita inginkan adalah sebuah kesinambungan pelayanan, yakni masyarakat diskrining, gangguan ditemukan, kemudian ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kompetensi pelayanan," tuturnya. Andi juga mengingatkan untuk tidak menunggu sampai gangguan penglihatan semakin parah sebelum memeriksakan mata. "Jangan menunggu mata bermasalah, kenali tanda gangguan penglihatan, lakukan skrining dan pemeriksaan secara berkala, dan segera tindak lanjuti apabila ditemukan gangguan," imbuhnya.

Upaya menjaga kesehatan mata memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga. Pemeriksaan berkala, deteksi dini, dan tindak lanjut yang tepat sangat penting agar gangguan penglihatan dapat ditangani sesuai kebutuhan.

Artikel Terkait