Ekonomi

IHSG Mengalami Penurunan di Akhir Pekan, Apa Penyebabnya?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Jumat, dipicu oleh sejumlah faktor global yang mempengaruhi pasar saham Indonesia.

D
Darma Yudhistira
12 September 2026 37 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan sebesar 0,73% atau setara dengan 47,96 poin, mencapai level 6.541 pada akhir perdagangan hari Jumat (11/9). Para analis mengidentifikasi beberapa faktor dari sentimen global yang berkontribusi terhadap tekanan di pasar modal Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$ 100 per barel, serta kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang menjadi pemicu terjadinya koreksi selama dua hari berturut-turut. Tidak hanya IHSG yang mengalami penurunan, tetapi bursa global juga menunjukkan pergerakan negatif secara bersamaan.

Analisis Penurunan IHSG

Nafan Aji Gusta, seorang analis teknikal senior dari Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah merupakan salah satu penyebab utama melemahnya IHSG. Dampak dari konflik ini meluas hingga mempengaruhi harga minyak, inflasi, ekspektasi suku bunga global, serta pergerakan nilai tukar rupiah. "Saya melihat penurunan IHSG dua hari beruntun bukan semata-mata karena perang Timur Tengah, melainkan kombinasi antara eskalasi geopolitik, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, tekanan rupiah, kenaikan yield global serta aksi profit taking," ungkap Nafan.

Melihat ke depan, Nafan memprediksi bahwa arah IHSG akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik dan harga minyak. Jika ketegangan mereda dan harga minyak brent turun, maka tekanan risiko dapat berkurang, memberikan ruang bagi IHSG untuk rebound.

Pergerakan Bursa dan Sektor yang Terpengaruh

Harry Su, Managing Director Research di Samuel Sekuritas Indonesia, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed menjadi faktor utama merosotnya bursa saham. "70% probabilitas The Fed akan naikkan suku bunga," jelasnya.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan hari ini mencapai 30,14 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1,92 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 11.470 triliun dengan total nilai transaksi mencapai Rp 14,3 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 183 saham mengalami kenaikan, 453 saham turun, dan 153 saham tidak bergerak.

Sepuluh dari sebelas sektor di bursa ditutup di zona merah, dengan sektor energi mengalami penurunan sebesar 1,22% secara sektoral. Di dalam sektor ini, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) merosot 4,06% ke level 945, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) melemah 2,01% ke level 146, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 2,74% ke level 1.600.

Saham-saham di sektor perbankan juga mengalami penurunan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,56% ke level 6.325, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 1,51% ke level 3.270, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,23% ke level 4.360.

Indeks bursa di kawasan Asia juga ditutup merah hari ini, dengan indeks Nikkei Jepang turun 1,87% ke level 64.050, Hang Seng terkoreksi 0,79% ke 24.758, Kospi Korea Selatan berkurang 1,76% ke level 6.909, dan Shanghai Composite turun 1,18% ke level 3.888.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya melalui aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait