Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dalam keadaan negatif pada perdagangan hari Kamis, 22 Oktober. Penurunan ini terjadi akibat tekanan jual yang mendominasi pasar saham domestik dan juga melemahnya sejumlah bursa utama di Asia.
Penurunan IHSG ini dipicu oleh reaksi investor terhadap pidato yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu sore, 21 Oktober. Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan kekhawatiran mengenai proposal dari lembaga penyedia indeks MSCI, yang berpotensi mengeluarkan saham Indonesia dari indeks negara berkembang dan memindahkannya ke pasar mandiri.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot sebesar 81,12 poin atau 1,52% ke level 5.247,24 pada awal perdagangan, setelah sebelumnya ditutup pada posisi 5.328,36. Pada saat pembukaan, IHSG bergerak dalam kisaran 5.185,53 hingga 5.250,94. Tekanan jual terlihat dari jumlah saham yang mengalami penurunan, yaitu sebanyak 557 saham, sementara hanya 82 saham yang mengalami penguatan, dan 324 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan pada sesi awal mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 978,4 miliar dengan volume mencapai 1,935 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 112.500 kali, dan kapitalisasi pasar BEI berada di angka Rp 9.248 triliun.
Indeks Lainnya Juga Tertekan
Tekanan di pasar saham tidak hanya dialami oleh IHSG. Beberapa indeks acuan di BEI juga menunjukkan pergerakan negatif di awal perdagangan. Indeks LQ45 turun sebesar 8,35 poin atau 1,56% ke posisi 527,41. Koreksi yang meluas di berbagai indeks ini mencerminkan dominasi saham yang bergerak di zona merah pada awal perdagangan.
Sentimen Negatif di Pasar Asia
Sentimen negatif juga terlihat dalam perdagangan saham di kawasan Asia. Sejumlah indeks utama di regional tersebut mengalami penurunan pada hari yang sama. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 454,48 poin atau 1,92% ke level 23.197,39. Indeks KOSPI Composite di Korea Selatan juga terkoreksi 113,93 poin atau 1,99% ke posisi 5.621,73.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 467,38 poin atau 0,72% ke level 64.153,86. Sementara itu, indeks SSE Composite di China turun 28,83 poin atau 0,78% menjadi 3.684,19. Indeks S&P/ASX 200 di Australia juga mengalami penurunan sebesar 43 poin atau 0,49% ke posisi 8.788,30. Penurunan serentak di berbagai bursa Asia menunjukkan adanya tekanan pasar yang juga dirasakan di luar Indonesia. Meskipun demikian, pergerakan indeks pada awal sesi perdagangan ini belum cukup untuk memastikan arah pasar hingga penutupan.