Ekonomi

IHSG Tertekan oleh Isu HSC dan Investigasi OJK, Apa Dampaknya?

Pasar saham Indonesia menghadapi berbagai sentimen negatif yang memengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk rumor tentang investigasi OJK dan perluasan daftar saham dengan konsentrasi kep...

D
Darma Yudhistira
14 October 2026 23 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Pasar saham Indonesia saat ini dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif yang memengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Isu-isu yang muncul meliputi perluasan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC), rumor mengenai investigasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait dugaan manipulasi harga saham, serta denda yang mungkin dijatuhkan kepada beberapa emiten.

Menurut Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, perluasan cakupan saham HSC dari emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun menjadi di atas Rp 5 triliun menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan koreksi IHSG belakangan ini. Ia menjelaskan bahwa pernyataan MSCI yang akan menghapus saham yang teridentifikasi sebagai HSC dari indeksnya telah membuat investor mulai mempertimbangkan saham-saham lain yang mungkin terdampak. Hal ini mendorong beberapa pengelola dana untuk mengurangi posisi mereka lebih awal sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tekanan jual.

Faktor Penyebab Tekanan pada IHSG

Liza menambahkan bahwa besarnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama untuk memahami sejauh mana isu HSC memengaruhi transaksi masing-masing saham. "Yield US Treasury yang tinggi, nilai tukar rupiah, serta persaingan dalam alokasi dana ke pasar lain juga berkontribusi terhadap arus keluar dana asing," ungkapnya dalam analisis pada Selasa (13/10).

Ia juga menekankan bahwa masuknya saham ke dalam daftar HSC dapat memengaruhi indeks global dan risiko terkait saham-saham seperti PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Namun, potensi tekanan jual pada saham-saham tersebut akan sangat bergantung pada status saham sebagai konstituen indeks, bobotnya, dan jadwal implementasi kebijakan MSCI. Liza mengingatkan investor agar tidak menganggap bahwa semua saham HSC akan mengalami tekanan jual paksa dengan besaran yang sama.

Rumor Denda Emiten dan Dampaknya

Lebih lanjut, Liza menekankan pentingnya Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjelaskan secara transparan dasar penetapan setiap saham dalam daftar HSC, termasuk perubahan batas kapitalisasi pasar. Ia juga menyoroti beredarnya rumor bahwa MSCI akan mendenda emiten, padahal sebenarnya MSCI adalah penyedia indeks, bukan otoritas yang memiliki kewenangan untuk menjatuhkan denda. "Ketidakjelasan komunikasi pasar dapat menghambat kepercayaan investor untuk kembali menanamkan dana di pasar saham Indonesia," katanya.

Liza menegaskan bahwa investor tidak perlu menghindari semua saham yang masuk dalam daftar HSC. Ia menyarankan agar investor tetap melakukan trading atau membeli saham secara bertahap setelah koreksi, dengan tetap mempertimbangkan ukuran posisi dan risiko likuiditas. Untuk investasi jangka panjang, penting bagi investor untuk mencermati struktur kepemilikan, free float yang efektif, fundamental perusahaan, serta kewajaran transaksi saham. Ia menegaskan bahwa status HSC tidak selalu mencerminkan kinerja bisnis emiten yang buruk.

Sebelumnya, juga muncul rumor bahwa OJK akan mengumumkan hasil investigasi terkait dugaan manipulasi harga saham yang melibatkan beberapa perusahaan di sektor energi terbarukan dan tambang batu bara, yang dapat berujung pada denda ratusan miliar rupiah. Di sisi lain, Stockbit Sekuritas menilai bahwa langkah untuk memperkuat pasar modal, termasuk potensi penindakan terhadap praktik manipulasi harga saham, merupakan langkah positif yang dapat mendukung normalisasi perlakuan terhadap IHSG oleh penyedia indeks global seperti MSCI.

Namun, Stockbit juga melihat bahwa rumor investigasi ini berpotensi menjadi sentimen negatif yang dapat membebani IHSG dalam jangka pendek, terutama untuk saham-saham konglomerasi. Tekanan ini diperkirakan akan berlanjut hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai isu investigasi tersebut. "Investor juga perlu memantau update dari MSCI terkait pasar Indonesia yang mungkin diumumkan pada Oktober 2026, menjelang tinjauan indeks pada November 2026," tulis Stockbit.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,17% menjadi 5.925 pada perdagangan hari ini, Selasa (13/10). Dalam perdagangan tersebut, terdapat 336 saham yang menguat, 290 saham yang terkoreksi, dan 168 saham yang tidak bergerak. Secara year to date (ytd), IHSG mengalami penurunan sebesar 31,47% dan tergelincir 8,28% dalam sebulan terakhir.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga melalui WhatsApp Channel Katadata.co.id untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait