SLEMAN— Perawatan luka pada penderita diabetes kini memiliki alternatif terapi tambahan melalui kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik yang diperkenalkan oleh Lutfi Nurdian Asnindari, seorang dosen di Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Inovasi ini bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan luka akut yang sering dialami oleh pasien diabetes.
Kombinasi dari kedua intervensi ini berfungsi untuk mengaktifkan jalur pensinyalan seluler yang penting dalam proses penyembuhan luka. Lutfi menjelaskan bahwa metode ini berpotensi sebagai terapi adjuvan, yaitu pengobatan tambahan dalam perawatan luka diabetes, dengan fokus pada pengoptimalan fase proliferasi dan remodeling.
Aktivasi Jalur Pensinyalan Seluler
Menurut Lutfi, aktifnya jalur pensinyalan intraseluler VGCC tipe Cav1.2-PDGF-BB/PDGFRβ memungkinkan fase proliferasi dan remodeling dalam penyembuhan luka diabetes berlangsung dengan lebih efektif. Dengan demikian, diharapkan kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi sejauh ini telah menguji inovasi ini menggunakan model tikus diabetes.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator biologis dalam proses penyembuhan luka pada kelompok yang menerima kombinasi intervensi ini menunjukkan hasil yang lebih baik. Temuan ini menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut. Selain itu, Lutfi juga menekankan pentingnya aspek keamanan dan kemudahan dalam pengembangan alat sebagai bagian dari inovasi ini. Metcovazin telah banyak digunakan di Indonesia dan dianggap aman, sementara parameter stimulasi listrik telah disesuaikan untuk menghindari efek samping yang berbahaya.
Masih dalam Tahap Praklinis
Walaupun hasil penelitian menunjukkan potensi yang positif, inovasi ini belum dapat diterapkan langsung pada pasien. Lutfi menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan saat ini masih berada dalam tahap praklinis dan belum melibatkan subjek manusia. "Penelitian kami belum menggunakan subyek manusia, karena penelitian praklinis. Berdasarkan tikus model yang kami buat, luka yang dapat diintervensi dengan inovasi stimulasi listrik ini adalah luka akut pada kondisi diabetes mellitus atau kadar glukosa darah tinggi," jelasnya.
Karena masih berada pada tahap praklinis, penerapan teknologi ini pada manusia memerlukan proses yang lebih panjang, termasuk penelitian translasional dan klinis sebelum dapat digunakan pada pasien. Lutfi juga menekankan pentingnya keterlibatan tenaga kesehatan berkompeten dalam perawatan luka jika teknologi ini nantinya dikembangkan untuk penggunaan manusia.
Dia menambahkan, "Inovasi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk dapat diterapkan pada manusia melalui penelitian translasional dan klinis. Namun, intervensi ini meskipun relatif aman, sebaiknya dilakukan oleh perawat yang terlatih dalam perawatan luka."
Penelitian ini menggunakan model tikus diabetes sebagai langkah awal untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik dalam penyembuhan luka. Ke depan, Lutfi berharap penelitian ini dapat menghasilkan perangkat stimulasi listrik dengan parameter yang telah teruji secara ilmiah. Selain itu, perangkat tersebut diharapkan mudah digunakan dan terjangkau.
Pengembangan alat dengan karakteristik ini diharapkan dapat membuka peluang untuk terapi adjuvan alternatif dalam perawatan luka pada penderita diabetes. "Indikator keberhasilan yang ingin kami capai adalah hadirnya terapi adjuvan alternatif berupa alat stimulasi listrik dengan parameter yang sudah teruji secara ilmiah serta murah dan mudah digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes," tegas Lutfi.