Pendidikan

Inovasi RespiraTB dari Mahasiswa UII untuk Pemantauan Gejala TBC Secara Real-Time

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta telah menciptakan RespiraTB, sebuah perangkat wearable yang memanfaatkan sensor accelerometer untuk mendeteksi gejala tuberkulosis (TBC) secara n...

J
Jarot Kusna
03 October 2026 21 pembaca
Mahasiswa UII mengembangkan RespiraTB, wearable berbasis sensor accelerometer untuk skrining awal gejala TBC secara real-time. /Istimewa.
Mahasiswa UII mengembangkan RespiraTB, wearable berbasis sensor accelerometer untuk skrining awal gejala TBC secara real-time. /Istimewa.

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta telah berhasil mengembangkan RespiraTB, sebuah platform wearable yang menggunakan sensor accelerometer untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Perangkat ini dirancang untuk memfasilitasi skrining awal bagi masyarakat yang menunjukkan gejala tuberkulosis (TBC), agar mereka tidak menunda pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

RespiraTB merupakan hasil karya Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Manajemen Rekayasa, dan Isfana Fatimah Darman dari Kedokteran. Proyek ini dikembangkan di bawah bimbingan Ali Parkhan dalam rangka riset kewirausahaan di ajang The 12th UTU Awards 2026.

Motivasi Pengembangan RespiraTB

Ketua Tim, Afwan Aditya Saputra, menjelaskan bahwa pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi oleh masalah keterlambatan dalam diagnosis TBC. Dia menyatakan bahwa gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan sering kali dianggap sepele oleh masyarakat, sehingga pemeriksaan baru dilakukan ketika kondisi pasien sudah parah. "Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Kami melihat gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius oleh masyarakat," ungkap Afwan.

Teknologi wearable yang diterapkan dalam RespiraTB berfungsi sebagai alat pemantauan yang berkelanjutan, sehingga kondisi pernapasan dapat dipantau sejak dini. Secara teknis, perangkat ini menggunakan sensor accelerometer/IMU untuk mengukur perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32, algoritma filtering, dan sistem skoring berbasis ambang statistik.

Keakuratan dan Potensi Pasar

Hasil pemrosesan data dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui Firebase, memungkinkan pemantauan karakteristik pernapasan secara kontinu dan non-invasif. Isfana Fatimah Darman, anggota tim dari Prodi Kedokteran, menekankan bahwa RespiraTB tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter atau diagnosis medis resmi. "RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan respiratory rate dan work of breathing," jelas Isfana.

Dia juga menambahkan bahwa diagnosis definitif TBC masih memerlukan pemeriksaan medis profesional di fasilitas kesehatan. Pengujian laboratorium menunjukkan bahwa RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate (RR) sebesar 96,28 persen jika dibandingkan dengan penghitungan manual, dengan deviasi maksimal satu napas per menit. Sensor MPU6050 mencatat akurasi 92,08 persen dibandingkan dengan metode Esophageal Pressure Catheter (Pes), dan transmisi data dari ESP32 ke aplikasi mobile mencapai tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.

Dari sisi pengembangan bisnis, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar menjelaskan bahwa RespiraTB menargetkan pasar melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Riset tim memperkirakan Total Addressable Market (TAM) mencapai Rp1,035 triliun per tahun, dengan target pasar awal di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. "Pada tahun pertama, kami menargetkan penjualan sebanyak 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar," kata Huda.

Ia juga menyebutkan bahwa skema kolaborasi B2B akan menyasar Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta organisasi seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund. Dosen Pembimbing, Ali Parkhan, memberikan apresiasi terhadap keunggulan dan kebaruan riset yang dilakukan oleh mahasiswa UII. "Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu dan non-invasif," jelas Ali Parkhan.

Dia menambahkan bahwa penggabungan data fisiologis dengan gejala subjektif melalui algoritma skoring dapat menghasilkan indeks risiko pernapasan secara real-time. Agus Mansur, Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, menyatakan bahwa fakultas mendukung pengembangan tahap lanjutan RespiraTB. "Pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala lebih luas, pembuatan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat, termasuk pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI," ungkap Agus Mansur.

Pihak fakultas berharap inovasi ini dapat menjadi bagian dari solusi pemantauan kesehatan yang praktis, terjangkau, serta mendukung deteksi dini TBC di tingkat nasional.

Artikel Terkait