Ekonomi

Investasi Politik Raksasa Silicon Valley: Siasat Sergey Brin Banting Dana Rp 1,8 Triliun demi Hadang Pajak Miliarder California

S
Safeera Anisa
29 September 2026 22 pembaca
Pendiri Google Sergey Brin (kiri) dan Larry Page (kanan). (WIKIMEDIA COMMONS/JOI ITO)
Pendiri Google Sergey Brin (kiri) dan Larry Page (kanan). (WIKIMEDIA COMMONS/JOI ITO)

Langkah politik tak biasa tengah terjadi di pusat industri teknologi dunia. Menjelang pemungutan suara yang bakal digelar pada November 2026, kompetisi sengit menyelimuti panggung kebijakan publik California seiring menguatnya wacana penerapan pajak kekayaan (wealth tax) bagi para taipan teratas.

Suntikan Modal Besar demi Membendung Prop 40

Demi menghadang guliran regulasi pajak miliarder (billionaire tax) bernama Prop 40, pendiri Google, Sergey Brin, mengambil tindakan agresif dengan mengucurkan dana dalam jumlah luar biasa. Brin menyalurkan dana segar tambahan sebesar 20 juta dollar AS (sekitar Rp 360 miliar) ke wadah organisasi kemasyarakatan bernama Building a Better California. Tambahan suntikan ini mengerek total dana yang sudah ia setorkan ke ormas penentang aturan tersebut hingga menembus angka 102 juta dollar AS (sekitar Rp 1,8 triliun).

Di balik besarnya angka sumbangan tersebut, tersimpan hitung-hitungan ekonomi yang rasional bagi Brin. Berada di posisi keempat jajaran orang tertua dan terkaya di dunia dengan estimasi kekayaan mencapai 267 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.806 triliun), Brin terancam kewajiban pajak hingga 13,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 239 triliun) sekiranya Prop 40 disahkan. Atas dasar itu, modal triliunan rupiah yang dialirkan ke gerakan politik ini sejatinya merupakan investasi defensif yang jauh lebih ekonomis dibandingkan beban pajak raksasa yang mengintainya.

Aturan Pajak Sekali Beli dan Serangan Balik di Surat Suara

Didesain secara khusus, Prop 40 memuat formula pemungutan pajak satu kali sebesar 5 persen atas kekayaan bersih milik sekitar 200 warga terkaya California, di mana kalkulasi nilai asetnya ditarik dari awal Januari tahun ini. Bila skema pajak ini berjalan efektif, kas negara bagian diproyeksikan mengantongi penerimaan hingga 100 miliar dollar AS dalam tempo lima tahun, yang sebagian besar dialokasikan untuk membiayai fasilitas dan layanan kesehatan publik.

Sebagai serangan balik, Building a Better California tidak sekadar berkampanye. Ormas bentukan kubu kontra ini sukses memasukkan dua usulan tandingan langsung ke dalam lembar surat suara warga. Apabila direstui oleh pemilih kelak, dua klausul tandingan ini akan secara otomatis membatasi peluang lahirnya skema pajak baru sekaligus melumpuhkan daya jangkau Prop 40.

Suara Politik Gubernur Newsom dan Celah Finansial Kaum Elite

Pro-kontra regulasi pajak ini turut memicu manuver dari jajaran eksekutif wilayah setempat. Gubernur California, Gavin Newsom, melayangkan kritik terbuka atas usulan Prop 40, sembari menggaungkan perlunya alternatif berupa pajak miliarder dalam skala nasional. Newsom menilai terdapat ketimpangan mendasar saat ini, di mana kalangan pekerja kantoran biasa justru dibebani persentase pajak yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan para pewaris kekayaan.

Mengenai celah hukum yang kerap dimanfaatkan para konglomerat, Newsom berpendapat:

"Kita harus mengakhiri pinjaman gaya hidup bebas pajak, trik yang memungkinkan orang super kaya meminjam dana memakai portofolio saham mereka sebagai jaminan tanpa perlu melaporkan penghasilan kena pajak,".

Arah Angin Silicon Valley: Antara Eksodus, Perlawanan, dan Kepasrahan

Aksi pencegatan pajak yang diarsiteki Brin memperlihatkan benang merah perselisihan di lingkar eksekutif teknologi. Sejumlah tokoh seperti mantan CEO Uber Travis Kalanick, investor modal ventura Peter Thiel, hingga sejawat pendiri Google Larry Page, lebih memilih hengkang dan angkat kaki dari California. Sementara itu, barisan pemodal dan petinggi bisnis seperti mantan CEO Google Eric Schmidt, investor Michael Moritz, CEO Stripe Patrick Collison, CEO DoorDash Tony Xu, dan pemodal ventura John Doerr memilih menyatukan kekuatan finansial bersama Brin di bawah bendera Building a Better California.

Di tengah gejolak perlawanan tersebut, pandangan kontras justru ditunjukkan oleh salah satu pendiri Nvidia, Jensen Huang. Meski berisiko terkena tagihan pajak mencapai 8 miliar dollar AS (sekitar Rp 144 triliun) akibat Prop 40, Huang menanggapi regulasi tersebut dengan sangat santai.

Dalam sebuah kesempatan wawancara pada Januari lalu, Huang mengutarakan sikapnya:

"Saya bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali. Kami memilih untuk tinggal di Silicon Valley, dan pajak apa pun yang ingin mereka terapkan, saya baik-baik saja dengan itu,".

Gerakan Akar Rumput dan Mobilisasi Massa Menjelang November

Dari sudut berbeda, konsorsium serikat pekerja selaku pemrakarsa Prop 40 terus bergerak menggalang kekuatan dari bawah. Kelompok pendukung ini telah menggelontorkan dana sebesar 31 juta dollar AS (sekitar Rp 558 miliar) dalam tahap awal pengumpulan ribuan tanda tangan. Meskipun modal finansial mereka tak sebanding dengan gempuran dana kelompok penentang, kubu pengusung mengandalkan strategi gerakan massa. Mereka berencana menurunkan sekitar 50.000 relawan ke lapangan guna mengampanyekan Prop 40 secara masif kepada masyarakat menjelang hari pemungutan suara November mendatang. Seluruh konstelasi data dan perkembangan isu ini dirangkum oleh KompasTekno merujuk pada laporan dari Bloomberg serta TechCrunch.

Artikel Terkait