Pendidikan

Jangan Cuma 'Upgrade' AI, Praktisi Komunikasi Diingatkan Tetap Jaga Karakter dan Reputasi Manusia

S
Safeera Anisa
24 September 2026 25 pembaca
Acara PURE: Seminar dan Competition 2026 yang diadakan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). (DOK. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW))
Acara PURE: Seminar dan Competition 2026 yang diadakan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). (DOK. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW))

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memang berjalan sangat cepat, namun manusia tidak boleh sampai dikendalikan oleh mesin. Kesadaran inilah yang didorong oleh Program Studi Hubungan Masyarakat Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) lewat gelaran PURE: Seminar dan Competition 2026, seperti tertulis pada keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).

Mengendalikan Teknologi, Bukan Jadi 'Asisten' AI

Acara yang memadukan sesi seminar dan kompetisi ini menghadirkan ruang diskusi bagi calon praktisi PR agar mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan keahlian interpersonal. Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat FTI UKSW, George Nicholas Huwae, menegaskan bahwa mahasiswa PR masa kini dituntut cepat beradaptasi dengan tren digital.

“Saat ini kita berada di era digitalisasi di mana perkembangan AI sangat pesat. Sebagai calon praktisi PR (Public Relation) profesional, mahasiswa wajib melek teknologi agar seluruh strategi dan praktik komunikasi yang dijalankan tetap relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

Menurut Nicholas, pemahaman terhadap teknologi perlu dibarengi dengan pengasahan soft skill secara bertahap.

“Melalui kegiatan dan workshop ini, mahasiswa diharapkan dapat terus mengasah keterampilan public speaking, tata cara berpenampilan profesional, hingga kemampuan teknis yang sangat dibutuhkan di industri saat ini," kata Nicholas.

Pandangan mendalam mengenai batas pemanfaatan teknologi diutarakan oleh profesional industri penyiaran, Awang Adjiewasita. Saat membagikan wawasannya, Awang mengingatkan para peserta agar tidak menyerahkan penuh kendali berpikir kepada kecerdasan buatan.

"Tetapi jangan sampai kita menjadi asistennya AI. Kitalah yang harus mengoperasikannya, sambil tetap membangun kemampuan komunikasi, karakter, dan reputasi sebagai manusia," ungkapnya.

Bagi Awang, sentuhan emosional dan rekam jejak reputasi menjadi benteng utama manusia yang tak sanggup ditiru oleh mesin.

"Karena ketika AI memiliki keterbatasan, kita akan kembali kepada manusia yang punya rasa dan reputasi. Jadi, jangan hanya upgrade kemampuan menggunakan AI, tetapi upgrade juga diri kita sebagai manusia," kata Awang.

Membangun Personal Image Lewat Penampilan yang Tepat

Aspek penting lain yang disorot dalam ajang ini adalah pentingnya kemasan diri (personal branding) dalam dunia kerja. Fashionpreneur Adeline Natasha Kusumawardani menjelaskan bahwa konsep pakaian kasual profesional pada dasarnya bukan mengenai barang mewah maupun sekadar mengejar tren yang sedang viral.

"Tetapi bagaimana kita memberikan yang terbaik untuk diri sendiri melalui pakaian yang rapi dan sesuai karakter," ujarnya.

Ia menyarankan pemilihan busana yang ringkas dengan palet warna dasar (basic), lalu disesuaikan terhadap postur tubuh, kepribadian, serta situasi tempat yang dikunjungi.

"Karena penampilan menjadi salah satu hal pertama yang dilihat dan dapat membentuk personal image. Untuk membangunnya, kita bisa mencari banyak referensi dari media sosial atau influencer fashion yang sesuai dengan karakter kita," ungkap Adeline.

Asah Kemampuan Lewat Ajang Kompetisi SMC dan Presenting

Guna menguji pemahaman peserta secara langsung, Ketua Panitia PURE 2026, Cahaya Arum Bunga Permata Putri, menyebutkan bahwa panitia menggelar lomba Strategic Management Communication (SMC) untuk tingkat mahasiswa serta lomba presenting bagi pelajar SMA/SMK di Salatiga, Jawa Tengah.

"Kegiatan PURE ini bertujuan untuk mewadahi peserta dalam memahami pemanfaatan AI dalam komunikasi dan public speaking serta pentingnya berpenampilan menarik di era saat ini melalui kolaborasi bersama para praktisi di bidangnya," ujarnya.

Arum berharap para peserta terpacu untuk menguji keahlian komunikasi, mengasah daya kritis, sekaligus mengawali pijakan karier mereka sejak dini.

“Kegiatan ini juga diharapkan mengembangkan kemampuan public speaking melalui presenting dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah secara efisien di dalam perusahaan melalui metode SMC di era krisis AI,” ungkapnya.

Hasil Akhir dan Daftar Pemenang Lomba

Perhelatan PURE 2026 diakhiri dengan pengumuman deretan tim pemenang kompetisi. Di kategori Strategic Management Communication (SMC), gelar juara 1 diraih tim The Bajigirls Who Can't be Moved dari Universitas Airlangga (Unair). Tempat kedua diduduki oleh tim Kelompok KKN dari Universitas Diponegoro (Undip), sementara posisi ketiga disabet oleh tim HighSchool in Jekarda dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Di kategori presenting tingkat SMA/SMK di Salatiga, tim Project Mbappe dari SMKN 1 Salatiga sukses mengamankan juara 1. Juara 2 diraih oleh tim Kokekab dari SMA Kristen Satya Wacana, dan juara 3 ditempati oleh tim Mam Choir Suka Americano dari SMKN 1 Salatiga.

Artikel Terkait