Kesehatan

Jepang Raih Rekor Baru dengan Lebih dari 100 Ribu Centenarian

Jepang mencatatkan rekor baru dengan jumlah warga berusia 100 tahun atau lebih yang mencapai lebih dari 100 ribu orang, didominasi oleh perempuan. Menteri Kesehatan Jepang mengungkapkan kebanggaannya...

J
Jaya Abdi
18 September 2026 18 pembaca
Foto: Aisyah Kamaliah
Foto: Aisyah Kamaliah

Jumlah lansia di Jepang yang berhasil mencapai usia 100 tahun atau lebih telah mencetak rekor baru. Kementerian Kesehatan Jepang melaporkan bahwa jumlah centenarian, yaitu individu berusia seabad ke atas, telah resmi melampaui angka 100 ribu untuk pertama kalinya. Data terbaru menunjukkan terdapat 107.677 warga Jepang yang berusia di atas 100 tahun, menjadikannya yang tertinggi di dunia, dengan sebagian besar adalah perempuan.

"Sebanyak 88 persen dari total lansia berusia seabad tersebut adalah wanita," demikian tertulis dalam laporan resmi yang dirilis.

Pemegang Rekor Lansia Tertua

Lansia wanita tertua di Jepang saat ini adalah Kishimoto Fuyo, seorang nenek berusia 114 tahun yang berasal dari Kota Kyoto. Sementara itu, pria tertua dipegang oleh Kato Hikaru, yang berusia 112 tahun dan berasal dari Kumamoto. Menteri Kesehatan Jepang, Kenichiro Ueno, menyatakan rasa senangnya melihat tingginya harapan hidup di kalangan masyarakat Jepang. Ia berpendapat bahwa tren positif ini tidak terlepas dari kemajuan dalam bidang medis dan teknologi kesehatan di negara tersebut.

"Saya sangat senang melihat begitu banyak orang yang bisa hidup panjang umur, tetap sehat, dan aktif," ungkap Kenichiro.

Faktor Penunjang Panjang Umur

Para ahli kesehatan berpendapat bahwa kunci panjang umur bagi lansia di Jepang terletak pada gaya hidup sehat dan pola makan yang baik yang telah dijaga sejak dini. Beberapa faktor penting yang mendukung hal ini antara lain:

  • Pola makan rendah lemak: Makanan khas Jepang didominasi oleh ikan segar, sayuran, dan nasi, serta memiliki kandungan lemak jenuh yang sangat rendah dibandingkan dengan diet masyarakat Barat.
  • Aktivitas fisik yang terjaga: Lansia di Jepang umumnya memiliki kebiasaan berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, bersepeda, dan melakukan latihan peregangan secara rutin.

Selain gaya hidup, inovasi teknologi juga turut berperan dalam mendukung kehidupan lansia di Jepang. Perusahaan-perusahaan lokal aktif menciptakan alat bantu, seperti rangka luar bertenaga (powered exoskeleton) untuk membantu mobilitas sendi dan otot lansia, serta kacamata yang dapat menyesuaikan fokus secara otomatis.

Tantangan Demografi di Balik Pencapaian

Meski angka harapan hidup terus meningkat, pemerintah Jepang menyimpan kekhawatiran terkait tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial dan kesehatan, seiring dengan meningkatnya populasi lansia. Penjualan popok dewasa di Jepang bahkan telah melampaui penjualan popok bayi selama lebih dari satu dekade terakhir.

Di sisi lain, angka kelahiran di Jepang mengalami penurunan yang signifikan, dengan total fertility rate mencapai rekor terendah yaitu 1,14. Angka kelahiran yang ideal untuk menjaga stabilitas populasi seharusnya minimal berada di angka 2,1. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takichi, bahkan menyebut kondisi penurunan populasi ini sebagai 'quiet emergency' atau darurat terselubung.

Data dari Lembaga Penelitian Populasi dan Jaminan Sosial Nasional Jepang memproyeksikan beberapa ancaman demografi, antara lain:

  • Penurunan populasi: Total penduduk diperkirakan akan berkurang menjadi 87 juta jiwa pada tahun 2070, turun 30 persen dibandingkan puncaknya yang mencapai 128 juta jiwa pada tahun 2008.
  • Lonjakan proporsi lansia: Saat ini, warga berusia 65 tahun ke atas menyumbang 30 persen dari total populasi, dan diprediksi akan meningkat hingga hampir 40 persen pada tahun 2070.
  • Depopulasi wilayah: Pada tahun 2025, penurunan jumlah penduduk diperkirakan akan terjadi secara merata di hampir seluruh prefektur di Jepang.

Dengan berbagai tantangan yang ada, Jepang harus terus beradaptasi untuk menghadapi perubahan demografi yang signifikan ini.

Artikel Terkait