Jakarta - Kualitas udara di Singapura mengalami penurunan yang signifikan akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut. Pada hari Jumat, 9 Oktober, kabut asap telah mencapai level yang dianggap 'tidak sehat'.
Berdasarkan informasi dari Channel News Asia, pada pukul 10 pagi waktu setempat, Indeks Standar Pencemaran (PSI) selama 24 jam di pusat Singapura tercatat melonjak menjadi 173, angka tertinggi pada musim kabut asap tahun ini. Di beberapa daerah lain, angka PSI juga berada dalam rentang tidak sehat, berkisar antara 117 hingga 166.
Peringatan untuk Warga Singapura
Menanggapi situasi ini, National Environment Agency (NEA) mengimbau masyarakat Singapura untuk memantau tingkat PM2.5 setiap jam jika mereka berencana melakukan aktivitas di luar ruangan. Jika kadar PM2.5 meningkat dalam satu jam, orang-orang yang sehat disarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya. Sementara itu, kelompok rentan seperti lansia, wanita hamil, anak-anak, dan individu dengan kondisi jantung atau paru-paru kronis harus menghindari aktivitas tersebut.
NEA menjelaskan bahwa pembacaan PSI selama 24 jam dianggap 'tidak sehat' jika berada dalam kisaran 101 hingga 200, 'sangat tidak sehat' jika berada dalam rentang 201-300, dan 'berbahaya' jika melebihi 300.
Asal Usul Kabut Asap
Dalam pengumuman yang dirilis pada Kamis malam, NEA menyatakan bahwa kabut asap yang sedang hingga tebal berasal dari bagian selatan dan tengah Sumatera serta Kalimantan Barat, dan terpantau bergerak menuju Singapura. Dengan arah angin yang bertiup dari tenggara atau selatan, kabut asap diperkirakan akan terus mengarah ke Singapura. NEA juga memprediksi bahwa PSI untuk Singapura akan tetap berada dalam kisaran sedang hingga agak tidak sehat.
Situasi ini menunjukkan dampak serius dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang tidak hanya mempengaruhi lingkungan lokal, tetapi juga negara tetangga seperti Singapura.