Polusi udara di Singapura mengalami peningkatan drastis, menjadikannya sebagai yang tertinggi di dunia akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari Indonesia. Fenomena ini terjadi beberapa hari sebelum pelaksanaan Formula 1 di negara kota tersebut.
Berdasarkan informasi dari IQAir pada Rabu (7/10/2026) siang, kualitas udara di Singapura tercatat dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, Kuala Lumpur, Malaysia, yang sebelumnya berada di urutan teratas, kini turun ke posisi kedua dalam daftar kota dengan polusi udara tertinggi di dunia.
Penutupan Sekolah di Malaysia
Di negara bagian Johor, Malaysia, yang terletak sekitar 140 kilometer di sebelah barat laut Singapura, sekitar 200 sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di Distrik Batu Pahat terpaksa ditutup pada Rabu akibat dampak kabut asap, menurut laporan media setempat.
Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) memperkirakan bahwa kondisi kering akan berlanjut selama beberapa hari ke depan di sebagian besar wilayah Asia Tenggara bagian selatan, yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas. Data dari NEA juga menunjukkan bahwa kualitas udara di lima wilayah Singapura berada dalam kategori tidak sehat.
Persiapan Menjelang Formula 1
Juru bicara Singapore GP Pte Ltd, yang merupakan penyelenggara balapan Formula 1, menyatakan pada Selasa bahwa mereka akan berkolaborasi dengan lembaga terkait untuk mengevaluasi situasi sebelum mengambil keputusan mengenai penyelenggaraan acara, terutama jika kabut asap mengganggu jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional.
Sementara itu, perwakilan dari Formula 1 mengungkapkan bahwa kondisi saat ini belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Beberapa wilayah di Asia Tenggara telah diselimuti kabut asap yang pekat dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan Indonesia yang mengalami salah satu musim kebakaran hutan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Kebakaran yang tidak terkendali ini disebabkan oleh praktik pembukaan lahan dengan cara tebang dan bakar yang telah berlangsung lama, dan diperparah oleh fenomena El Niño yang membuat wilayah tersebut menjadi lebih kering. Menurut platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan Indonesia, SiPongi, jumlah titik panas pada bulan lalu mencapai angka tertinggi sejak 2015, yang juga merupakan tahun di mana keadaan darurat kabut asap regional menyebabkan gangguan luas dan memicu ketegangan diplomatik antarnegara.
Organisasi lingkungan Greenpeace mengidentifikasi lebih dari 20 perusahaan kelapa sawit, pulp, dan gula yang konsesinya mencakup area sumber kebakaran asap. Beberapa perusahaan tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan Malaysia dan Singapura.
Secara keseluruhan, sebagian besar wilayah Asia Tenggara telah diselimuti kabut asap yang mengganggu dalam beberapa pekan terakhir, di tengah upaya Indonesia untuk mengatasi salah satu musim kebakaran hutan terburuk yang pernah ada.