Ekonomi

Kadin: Stabilitas Rupiah Lebih Penting Daripada Penurunan Suku Bunga

Kadin Indonesia menyatakan bahwa pelaku usaha lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan penurunan suku bunga acuan di tengah ketidakpastian ekonomi.

A
Adhe Dharma
16 July 2026 22 pembaca
Survei Kadin menunjukkan bahwa pelaku usaha lebih prioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah daripada penurunan suku bunga, di tengah ketidakpastian ekonomi. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila ZT).
Survei Kadin menunjukkan bahwa pelaku usaha lebih prioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah daripada penurunan suku bunga, di tengah ketidakpastian ekonomi. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila ZT).

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute menyebut pelaku usaha saat ini lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan penurunan suku bunga acuan di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi. Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, menyampaikan hal tersebut berdasarkan hasil survei Kadin Business Pulse Kuartal II 2026 yang melibatkan 276 perusahaan anggota Kadin dari 27 provinsi.

"Kalau kita lihat hasil survei, ternyata dunia usaha lebih mementingkan stabilisasi nilai tukar rupiah dibandingkan penurunan suku bunga," ujar Fakhrul dalam peluncuran Kadin Business Pulse Kuartal II 2026 di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Rabu (15/7).

Menurut Fakhrul, pelaku usaha saat ini lebih fokus menjaga keberlangsungan bisnis (survival) dibandingkan melakukan ekspansi usaha. "Prioritasnya masih survival dulu, bertahan hidup. Sementara untuk mengembangkan usaha, itu nanti," katanya.

Ia menjelaskan bahwa suku bunga yang lebih rendah memang dapat mendorong perusahaan untuk mengambil kredit guna memperluas usaha. Namun, kondisi tersebut belum menjadi prioritas ketika dunia usaha masih menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah. "Karena kalau usahanya kencang, rupiahnya stabil. Kalau usahanya kencang, sering kali pelaku usaha bayar bunga juga tidak terlalu menjadi persoalan. Marginnya bisa dua kali lipat atau tiga kali lipat," ujarnya.

Sebaliknya, ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 65,2 persen responden menilai pelemahan rupiah berdampak negatif terhadap prospek bisnis dalam 6-12 bulan ke depan, dengan dampak yang paling banyak dirasakan adalah kenaikan biaya operasional perusahaan.

Dalam survei yang sama, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi faktor yang paling banyak dipilih pelaku usaha untuk memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia dengan porsi 26,1 persen. Selanjutnya, pelaku usaha menginginkan kepastian regulasi investasi sebesar 19 persen, kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah sebesar 18,8 persen, serta perbaikan daya beli masyarakat.

Fakhrul mengatakan bahwa stabilitas rupiah menjadi syarat penting untuk mengembalikan optimisme pelaku usaha di tengah masih tingginya tekanan terhadap biaya produksi.

Artikel Terkait